Penulis : Uqudiyah Kanafila, S2 Magister Manajemen, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor : Adisa Cantika
Edukasi Update, Opini – Setelah Idul Fitri, suasana kegembiraan yang terkait dengan berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan banyak makanan mulai mereda. Namun, periode setelah Lebaran menghadirkan tantangan baru bagi banyak generasi muda di Indonesia: masalah keuangan.
Generasi Z memiliki kecenderungan untuk gaya hidup konsumtif dan tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik, sehingga fenomena stres keuangan setelah Lebaran menjadi semakin umum.
Data menunjukkan bahwa generasi muda mengalami tekanan keuangan. Laporan RRI menunjukkan bahwa sekitar 81% pengguna layanan paylater di Indonesia adalah generasi muda. Banyak orang menggunakan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan konsumtif mereka, seperti membeli pakaian, perangkat elektronik, dan kebutuhan Lebaran. Namun, penggunaan yang tidak terkendali menyebabkan cicilan yang harus dibayar setelah Lebaran.
Selain itu, Warta Ekonomi melaporkan bahwa sekitar 56% generasi Z baru cukup mengenal keuangan dan sekitar 64% mengaku mengalami stress finansial. Banyak remaja menghabiskan uang secara implusif karena kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan terutama selama Lebaran yang melibatkan tuntutan sosial seperti berbagi THR, mudik dan memenuhi gaya hidup.
Sebaliknya, perubahan dalam perilaku juga mulai terlihat. Sebagian generasi muda mulai memanfaatkan momentum setelah lebaran untuk berfikir tentang uang mereka. Sebagai contoh, mengalokasikan THR yang tersisa untuk kebutuhan jangka panjang, seperti membeli rumah. Meskipun demikian, tekanan ekonomi jangka pendek masih mendominasi, sehingga langkah ini belum menjadi perioritas utama.
Menurut laporan Kompas.id, pada Lebaran 2025, banyak masyarakat harus “mengencangkan ikat pinggang” setelah hari raya karena THR cepat habis. Kondisi ini menunjukkan siklus tahunan yang berulang: pengeluaran meningkat menjelang dan sesudah Lebaran, kemudian keadaan keuangan menurun setelahnya.
Rasa tertekan keuangan yang dialami generasi muda setelah Lebaran adalah hasil dari sejumlah faktor yang berbeda. Pemicu utama termasuk kurangnya pengetahuan tentang keuangan, kemudahan mendapatkan kredit digital seperti paylater, dan tekanan sosial untuk tampil “layak” selama Lebaran. Selain situasi keuangan yang belum stabil sepenuhnya, generasi muda menghadapi risiko finansial yang semakin kompleks.
Karena situasi ini, diperlukan upaya yang lebih sistematis untuk mengajarkan generasi muda tentang keuangan. Perencanaan anggaran, pengelolaan THR, dan penggunaan kredit yang bijak sangat penting untuk mengurangi stres finansial setelah Lebaran. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat dan perubahan pola perilaku, fenomena ini berpotensi berulang setiap tahunnya.
Oleh karena itu, tekanan keuangan setelah Lebaran bukan sekadar masalah individu; itu adalah bagian dari dinamika sosial dan ekonomi yang lebih luas. Generasi muda harus dididik untuk memiliki uang yang cukup agar mereka tidak terjebak dalam siklus konsumsi dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.











