Scroll untuk baca artikel
Daerah

Koleksi Medali sejak Dini, Jeremie The Tumbuh Bersama Matematika dan Semangat Pantang Menyerah

×

Koleksi Medali sejak Dini, Jeremie The Tumbuh Bersama Matematika dan Semangat Pantang Menyerah

Sebarkan artikel ini
Picture1srtttttt
Dokumentasi pribadi : koleksi medali siswa berprestasi Tingkat internasional, Jeremie The

SURABAYA – Bagi sebagian anak, berhadapan dengan soal matematika yang sulit mungkin membuat dahi berkerut. Namun, bagi Jeremie The, kesulitan justru menjadi alasan untuk belajar lebih giat. Siswa Sampoerna Academy Surabaya-Pakuwon Indah itu telah mengumpulkan sejumlah medali dari berbagai kompetisi matematika selama bersekolah. Ia juga terus mengasah kemampuan melalui berbagai ajang matematika nasional dan internasional, termasuk Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO), Singapore and Asian Schools Math Olympiad (SASMO), dan World Mathematics Invitational (WMI). Meski sederet medali telah diraih, Jeremie memiliki pandangan sederhana tentang keberhasilannya. Ia mengaku matematika tidak selalu mudah. Namun, kesulitan menurutnya bisa ditaklukkan dengan belajar.

“Aslinya sulit, tapi kalau belajar jadi gampang. Harus semangat terus supaya makin pintar. Biar nanti masa depannya enak,” kata Jeremie. Ucapan itu sederhana, tetapi menggambarkan proses di balik medali-medali yang kini dimilikinya. Prestasi, bagi Jeremie, bukan karena seluruh soal selalu terasa mudah. Sebaliknya, ada tantangan yang harus dipelajari dan diselesaikan satu demi satu. Kompetisi matematika tidak hanya menguji kemampuan berhitung. Peserta juga ditantang untuk mengenali pola, berpikir logis, memilih strategi, hingga menyelesaikan persoalan dalam waktu terbatas. Proses tersebut telah dijalani Jeremie sejak tahun-tahun awal sekolah dasar.

Salah seorang guru yang pernah mendampinginya, Shary Faith Layawan, yang merupakan homeroom teacher Grade 1A di Sampoerna Academy Surabaya-Pakuwon Indah, masih mengingat bagaimana rasa ingin tahu Jeremie terhadap matematika terus berkembang. Menurut Shary, dirinya merasa terhormat pernah menjadi bagian dari perjalanan matematika Jeremie sejak Grade 1. Ketika menjadi guru matematika Jeremie dan Maggie, ia berupaya tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga membangun rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, serta keberanian mereka untuk memberikan tantangan kepada diri sendiri.

“Sebagai guru matematika mereka, saya mendapat kesempatan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkuat kemampuan problem solving, dan mendorong mereka untuk terus menantang diri sendiri,” tuturnya. Kini Jeremie telah melanjutkan pendidikan ke Grade 2. Melihat mantan siswanya terus berkembang dan berprestasi dalam berbagai kompetisi seperti SEAMO, SASMO, WMI, serta kompetisi nasional dan internasional lainnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Shary.

Menurut Shary, pencapaian anak tidak muncul dalam satu malam. Fondasi yang dibangun sejak dini ikut menentukan bagaimana anak menghadapi tantangan berikutnya. Ia bersyukur pernah mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. “Pencapaian mereka menjadi pengingat bahwa dengan passion, perseverance, dan dukungan yang tepat, anak-anak dapat mencapai hal-hal yang luar biasa,” ungkapnya.

Perjalanan Jeremie juga menunjukkan bahwa medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada sesuatu yang lebih penting yang sedang tumbuh bersamanya: keberanian menghadapi kesulitan dan kemauan untuk mencoba lagi ketika jawabannya belum ditemukan. Bagi anak seusianya, kebiasaan tersebut menjadi modal penting. Sebab, semakin tinggi jenjang pendidikan, tantangan yang dihadapi tentu akan semakin kompleks. Deretan medali yang kini tersimpan menjadi penanda sebuah perjalanan. Namun, bagi Jeremie, rumus untuk melangkah lebih jauh ternyata tidak rumit. Belajar ketika merasa sulit. Tetap semangat agar semakin pintar. Dan, seperti yang dikatakannya dengan polos, semua itu dilakukan “biar nanti masa depannya enak.”