Scroll untuk baca artikel
Daerah

Atasi Kekurangan Air Saat Kemarau, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Hidroponik di Desa Jendi

×

Atasi Kekurangan Air Saat Kemarau, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Hidroponik di Desa Jendi

Sebarkan artikel ini
Picture1
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 263 memberikan sosialisasi dan tutorial hidroponik kepada warga Desa Jendi, Wonogiri, sebagai solusi kebun dasa wisma saat musim kemarau.

WONOGIRI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 263 menghadirkan program perkebunan berbasis hidroponik di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Program ini menjadi solusi bagi keberlangsungan kebun dasa wisma warga yang kerap terhambat kekurangan air saat musim kemarau.

Kelompok 263 beranggotakan sembilan mahasiswa dan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Sorja Koesuma, S.Si., M.Si. Mereka melaksanakan KKN selama 45 hari, mulai 7 Juli hingga 21 Agustus 2026, dengan tinggal dan berbaur bersama masyarakat Desa Jendi.

KKN merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah, tetapi juga belajar membaca kebutuhan dan potensi di tengah masyarakat. Di Desa Jendi, proses itu dimulai dari survei awal sebelum program kerja ditetapkan.

Berawal dari Survei Desa

Gagasan program hidroponik lahir dari hasil survei tersebut. Dalam pertemuan awal, Kepala Desa Jendi, Suharni, menyampaikan bahwa setiap RT di desanya memiliki kebun dasa wisma (kebun dawis) masing-masing. Kebun dawis umumnya dikelola kelompok warga bertetangga, biasanya dalam lingkup PKK, untuk memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Tim KKN melihat keberadaan kebun di setiap RT itu sebagai potensi besar yang layak dikembangkan. Meski demikian, ada kendala yang muncul setiap tahun. Ketika musim kemarau tiba, kebun dawis tidak berjalan lancar karena pasokan air berkurang. Padahal, tanaman sangat bergantung pada ketersediaan air untuk tumbuh.

Dari persoalan itulah mahasiswa memilih hidroponik sebagai solusi. Hidroponik adalah teknik bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media utama. Tanaman memperoleh nutrisi dari larutan yang dialirkan atau diberikan melalui media tanam tertentu. Karena air yang digunakan dapat dikelola dengan lebih terukur, metode ini dikenal lebih hemat air dibandingkan budidaya konvensional, sehingga cocok diterapkan di wilayah yang sulit air saat kemarau.

Sosialisasi Disambut Antusias

Kegiatan diawali dengan sosialisasi hidroponik kepada warga pada Jumat, 7 Agustus 2026 di Balai Desa Jendi. Pada tahap ini, mahasiswa memperkenalkan konsep hidroponik serta alasan metode tersebut dipilih sebagai jawaban atas persoalan kebun dawis.

Antusiasme warga terlihat cukup tinggi. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya warga yang hadir dan aktif mengikuti jalannya sosialisasi. Keaktifan itu menjadi modal penting karena keberhasilan program sangat bergantung pada kemauan warga untuk mencoba dan melanjutkan sendiri setelah KKN berakhir.

Unit Hidroponik untuk Dusun Bendungan

Setelah sosialisasi, mahasiswa membangun satu unit hidroponik yang dihibahkan kepada warga Dusun Bendungan RT 1. Unit tersebut diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagi warga yang ingin menerapkan hidroponik di lingkungan masing-masing.

Dalam kesempatan itu, tim KKN juga memberikan tutorial pembuatan unit hidroponik. Mahasiswa tidak hanya menyerahkan hasil jadi, tetapi juga membagikan cara membuatnya agar warga bisa membangun unit sendiri dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Pendekatan ini dipilih supaya manfaat program tidak berhenti pada satu unit saja.

Untuk mendukung berjalannya perkebunan hidroponik, tim menyerahkan pupuk AB mix dan rockwool. AB mix adalah nutrisi yang menjadi sumber makanan tanaman hidroponik, sedangkan rockwool berfungsi sebagai media tanam, terutama pada tahap awal pembibitan. Dengan bekal tersebut, warga dapat langsung memulai penanaman tanpa harus menyiapkan semuanya dari nol.

Harapan untuk Keberlanjutan

Melalui program ini, mahasiswa berharap warga Desa Jendi dapat membuat unit hidroponik secara mandiri, sehingga pemanfaatan kebun hidroponik di desa tersebut semakin maksimal. Dengan begitu, kebun dawis di setiap RT dapat tetap produktif sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.

Program ini juga menunjukkan bahwa persoalan lokal dapat dijawab dengan pendekatan sederhana yang tepat sasaran, selama dimulai dari pemahaman terhadap kondisi desa dan melibatkan warga secara langsung. Kehadiran KKN UNS Kelompok 263 di Desa Jendi diharapkan meninggalkan manfaat yang terus berlanjut, bahkan setelah masa pengabdian mahasiswa selesai.