Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Dari Rajutan ke Industri Kreatif, Cara Universitas Ciputra Surabaya Menyiapkan Desainer Fashion Indonesia yang Tidak Hanya Konsumtif.

×

Dari Rajutan ke Industri Kreatif, Cara Universitas Ciputra Surabaya Menyiapkan Desainer Fashion Indonesia yang Tidak Hanya Konsumtif.

Sebarkan artikel ini
kjhd
Lilian, Renata, Karen, Jerrica, dan Jeanette sedang  berdiskusi mengenai hasil teknik knitting

EDUKASI UPDATE, SURABAYA — Industri fashion global berkembang sangat cepat dan mempengaruhi gaya hidup generasi muda di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun di balik derasnya arus tren tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah generasi muda hanya akan menjadi konsumen tren, atau mampu menjadi pencipta inovasi di industri kreatif?

Upaya menjawab tantangan itu terlihat dalam proses pembelajaran di Program Fashion Design Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya. Melalui mata kuliah Basic Fashion Textile and Material, mahasiswa diajak memahami dasar material fashion melalui teknik knitting atau merajut.

Di dalam kelas, suasana tampak aktif dan interaktif. Mahasiswa berdiskusi di depan papan inspirasi yang dipenuhi berbagai textile swatch hasil rajutan berwarna-warni. Setiap karya menunjukkan eksplorasi yang berbeda, mulai dari motif bunga, karakter hewan, hingga tekstur tiga dimensi dari kombinasi berbagai jenis benang dan material.

Pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis merajut, tetapi juga bagaimana tekstur, warna, dan struktur rajutan dapat menjadi elemen penting dalam desain fashion. Proses tersebut dilakukan melalui praktik langsung, eksperimen material, serta diskusi bersama untuk mengevaluasi dan mengembangkan ide desain.

Dosen pengampu mata kuliah, Fabio Ricardo Toreh, menjelaskan bahwa pemahaman terhadap material menjadi fondasi penting bagi seorang desainer fashion.

“Seorang fashion designer tidak hanya mendesain bentuk pakaian, tetapi juga harus memahami bagaimana tekstil itu terbentuk. Dengan belajar knitting, mahasiswa bisa melihat secara langsung bagaimana benang berubah menjadi struktur kain,” ujarnya. 

trewert
Mahasiswa menunjukkan hasil eksperimen textile swatch teknik knitting kepada dosen

Melalui pembuatan textile swatch, mahasiswa diminta mengeksplorasi berbagai kemungkinan tekstur dan teknik rajutan. Karya-karya kecil tersebut menjadi ruang eksperimen yang nantinya dapat dikembangkan menjadi elemen desain pada busana, aksesori, maupun produk tekstil lainnya.

Dosen lainnya, Christina Tanujaya, menilai latihan semacam ini penting untuk membangun kepekaan desain mahasiswa terhadap material.

“Dari satu teknik rajut saja, mahasiswa bisa menciptakan banyak karakter tekstil yang berbeda. Di sinilah kreativitas mereka dilatih, bagaimana mengolah teknik sederhana menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika dan desain,” jelasnya.

Bagi mahasiswa, proses tersebut juga memberikan pengalaman baru dalam memahami dunia tekstil. Salah satunya dirasakan oleh mahasiswa FDB, Renata Felia Susantio.

“Awalnya saya pikir knitting hanya membuat pola rajutan biasa, tetapi ternyata kita bisa bereksperimen dengan warna, tekstur, dan bentuk. Dari swatch kecil saja bisa muncul banyak ide desain yang unik,” katanya.

Di tengah derasnya tren fashion global yang sering didorong oleh media sosial, pendekatan pembelajaran semacam ini menjadi upaya untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi penikmat tren, tetapi juga pencipta inovasi. Pemahaman terhadap material dan proses produksi dianggap sebagai kunci penting agar desainer muda mampu menghasilkan karya yang memiliki identitas dan nilai kreatif.

Melalui eksplorasi sederhana dari benang dan rajutan, mahasiswa tidak hanya belajar membuat tekstil, tetapi juga memahami bahwa proses desain fashion selalu berawal dari eksperimen material. Dari proses kecil inilah, kampus berharap lahir generasi desainer Indonesia yang tidak sekadar mengikuti tren dunia, melainkan mampu menciptakan tren baru bagi industri kreatif nasional.