Edukasi Update, Suarabaya – Pantai tak lagi sekadar lanskap, tetapi berubah menjadi narasi visual yang hidup di tangan mahasiswa Universitas Ciputra. Lewat eksplorasi tekstil yang kaya detail dan emosi, dua mahasiswi, Renata Felia Susantio dan Jerrica Idelia, berhasil menerjemahkan pengalaman personal tentang pantai menjadi karya fashion yang puitis sekaligus ekspresif.
Alih-alih menghadirkan pantai secara literal, keduanya mengolah memori, suasana, dan rasa menjadi bahasa visual yang kuat, mengajak siapa pun yang melihat untuk ikut “merasakan” momen di tepi laut.
Renata menghadirkan ketenangan senja pantai melalui gradasi warna lembut yang mengalir seperti langit saat matahari tenggelam. Tekstur alami dan detail flora diwujudkan melalui teknik beading dan embroidery yang presisi, menciptakan kesan hening, hangat, dan reflektif.
Sebaliknya, Jerrica membawa energi musim panas yang cerah dan penuh keceriaan. Warna-warna vibrant seperti pink, kuning, dan turquoise bertabrakan secara harmonis, merepresentasikan semangat bebas, riang, dan dinamis khas suasana pantai di siang hari.
Dua pendekatan yang berbeda ini justru bertemu dalam satu benang merah yaitu bagaimana memori personal dapat diolah menjadi storytelling visual yang kuat dan relevan dalam desain fashion.
“ Saya ingin menghadirkan kembali rasa tenang saat menikmati senja di pantai, bukan hanya dilihat, tapi juga dirasakan,” ungkap Renata.

Berbeda dari itu, inspirasi Jerrica justru lahir dari musik. Lagu Stateside menjadi pemicu awal yang kemudian berkembang menjadi eksplorasi visual penuh warna dan energi.
“ Saya ingin orang merasakan kebahagiaan dan kebebasan, seperti momen terbaik saat berada di pantai,” kata Jerrica.
Secara teknis, keduanya sama-sama menggunakan teknik suminagashi untuk menciptakan efek aliran warna yang menyerupai ombak. Namun, eksplorasi mereka berkembang ke arah yang unik dan personal.
Renata menekankan craftsmanship melalui bordir detail dan aplikasi manik-manik yang membentuk elemen-elemen alam seperti pohon kelapa, pasir, hingga bunga pantai. Sementara Jerrica lebih eksploratif dalam dimensi dan tekstur, menghadirkan bunga hibiscus tiga dimensi, patchwork tematik, serta permainan beading yang dinamis.
Kaprodi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Yoanita Tahalele, B.A., M.A., menilai karya keduanya menunjukkan kedewasaan konsep yang melampaui tahap eksplorasi mahasiswa pada umumnya.
“Kekuatan mereka ada pada konsistensi antara ide, proses, hingga hasil akhir. Ini bukan sekadar karya yang indah, tapi juga terkonsep dengan baik,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurut asisten dosen, Shendy Arie, kompleksitas teknik yang digunakan juga menjadi sorotan.
“Pengerjaan beading, embroidery, hingga manipulasi tekstil manual membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Mereka menunjukkan komitmen dan kualitas eksekusi yang sangat baik,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar hasil akhir, proses kreatif ini menjadi perjalanan reflektif bagi keduanya.
Bagi Renata, proyek ini memperdalam apresiasinya terhadap craftsmanship sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga keindahan alam. Sementara Jerrica menemukan bahwa fashion adalah ruang eksplorasi tanpa batas yaitu tempat ide, emosi, dan identitas visual dapat bertemu.
Karya mereka menjadi bukti bahwa fashion bukan hanya tentang tren, tetapi juga medium bercerita tentang pengalaman, alam, dan perspektif personal.
Melalui eksplorasi ini, mahasiswa Universitas Ciputra menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mampu menghadirkan karya fashion yang tidak hanya estetis, tetapi juga emosional, konseptual, dan penuh makna.











