Penulis: Charissa Nur Tita Aulia, Mahasiswa Universitas Siber Asia.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi informasi, pengalaman, dan pendapat. Namun, kemudahan dalam berkomentar terkadang membuat seseorang lupa bahwa setiap kata yang ditulis dapat memberikan dampak kepada orang lain. Di sinilah Emotional Intelligence atau kecerdasan emosional menjadi penting, terutama dalam kehidupan digital yang membuat seseorang dapat bereaksi secara cepat tanpa terlebih dahulu memikirkan perasaan orang lain.
Fenomena tersebut terlihat dalam kasus viral komentar sejumlah akun di Threads terhadap unggahan seorang pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap. Unggahan tersebut mendapat berbagai respons, termasuk komentar yang dinilai sinis dan tidak menunjukkan empati. Kasus semakin menjadi perhatian setelah pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Peristiwa tersebut kemudian memunculkan konsekuensi bagi sejumlah tenaga kesehatan yang terlibat. Pemberitaan menyebut adanya klarifikasi, permintaan maaf, hingga sanksi dari institusi terkait. Hal ini menunjukkan bahwa komentar di media sosial bukan sekadar tulisan yang hilang setelah dibaca. Jejak digital dapat memengaruhi hubungan sosial, reputasi, bahkan kehidupan profesional seseorang.
Emotional Intelligence: Bukan Sekadar Mengendalikan Emosi
Menurut Estetika Humanisme, manusia tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks media sosial, Emotional Intelligence dapat diterapkan dengan mengenali emosi sebelum memberikan respons, mengendalikan dorongan untuk bereaksi secara spontan, serta mempertimbangkan perasaan dan kondisi orang lain.
Seseorang mungkin merasa terganggu dengan sebuah unggahan. Namun, merasa kesal bukan berarti harus langsung membalas dengan komentar yang menyakitkan. Ada perbedaan antara menyampaikan kritik dan merendahkan seseorang. Kritik dapat membantu memperbaiki keadaan, sedangkan komentar yang tidak terkendali justru dapat memperbesar konflik.
Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah komentar ini benar-benar diperlukan? Apakah cara saya menyampaikannya sudah tepat? Bagaimana jika kalimat ini ditujukan kepada saya?
Ketika Empati Hilang di Balik Layar
Salah satu tantangan terbesar komunikasi digital adalah hilangnya interaksi tatap muka. Ketika berbicara secara langsung, seseorang dapat melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh lawan bicara. Di media sosial, konteks tersebut hampir tidak terlihat. Akibatnya, sebuah komentar dapat dengan mudah ditulis tanpa memahami kondisi emosional orang yang membacanya.
Padahal, empati merupakan bagian penting dari Emotional Intelligence. Empati bukan berarti selalu menyetujui pendapat orang lain. Empati berarti berusaha memahami bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia yang memiliki perasaan, masalah, dan keadaan yang tidak selalu kita ketahui.
Kasus komentar terhadap pasien tersebut menjadi pengingat bahwa status sosial, profesi, maupun latar belakang seseorang tidak menghilangkan kewajiban untuk menghargai sesama manusia. Kritik terhadap pelayanan memang penting, tetapi kritik tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang manusiawi dan bertanggung jawab.
Kemampuan menggunakan media sosial secara bijak merupakan bagian dari pembentukan karakter. Emotional Intelligence dapat menjadi salah satu bekal penting dalam menghadapi berbagai perbedaan pendapat di media sosial. Ketika muncul unggahan yang tidak disukai, respons terbaik tidak selalu berupa komentar. Terkadang, memilih untuk berhenti sejenak, membaca ulang, dan berpikir sebelum merespons merupakan bentuk kecerdasan emosional.
Media sosial memang memberikan kebebasan untuk berbicara, tetapi kebebasan tersebut seharusnya berjalan bersama tanggung jawab. Setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, tetapi orang lain juga memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat.
Bijak Sebelum Mengetik
Kasus ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah komentar viral. Lebih jauh, kasus tersebut mengajak kita melihat kembali bagaimana manusia memperlakukan manusia lain di ruang digital.
“Kecerdasan bukan hanya tentang seberapa cepat kita mampu memberikan respons, tetapi juga tentang seberapa bijak kita memilih respons yang perlu diberikan.”
Emotional Intelligence mengajarkan bahwa tidak semua emosi harus diubah menjadi kata-kata, dan tidak semua pendapat harus disampaikan dengan cara yang menyakiti. Di tengah derasnya arus informasi dan komentar di media sosial, kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami keadaan, dan memilih kata dengan empati justru menjadi bentuk kedewasaan.
Pada akhirnya, sebuah komentar hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang. Karena itu, sebelum menjadikan komentar sebagai senjata, sudah seharusnya kita bertanya “apakah kata-kata kita sedang menyelesaikan masalah atau justru menambah luka?”.











