Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Teknologi Semakin Pintar, Apakah Manusianya Juga Semakin Bijaksana?

×

Ketika Teknologi Semakin Pintar, Apakah Manusianya Juga Semakin Bijaksana?

Sebarkan artikel ini
Picture1reeeeewqs
Ilustrasi kolaborasi manusia dan Artificial Intelligence pada era Society 5.0.

Oleh: Purwito Adi Nugroho – Mahasiswa Universitas Siber Asia

Edukasi Update, Opini – Dalam dua tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu fenomena global yang paling banyak diperbincangkan. Kehadiran ChatGPT, Gemini, Claude, Microsoft Copilot, hingga berbagai AI generator telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan. Mahasiswa kini dapat menyelesaikan ringkasan materi, membuat presentasi, menulis kode program, hingga memperoleh penjelasan konsep hanya dalam hitungan detik.

Fenomena tersebut merupakan wujud nyata dari Revolusi Industri 4.0, yaitu era ketika internet, kecerdasan buatan, big data, Internet of Things (IoT), cloud computing, dan berbagai teknologi digital terintegrasi dalam hampir seluruh aktivitas manusia. Modul Estetika Humanisme menjelaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 ditandai oleh hadirnya AI, machine learning, blockchain, robotika, dan IoT yang mendorong inovasi di berbagai bidang kehidupan.

Namun, perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar: apakah manusia masih menjadi pusat dari perkembangan teknologi, atau justru mulai bergantung sepenuhnya kepada teknologi? Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Society 5.0 diperkenalkan sebagai konsep masyarakat yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi, sehingga teknologi berfungsi membantu manusia menyelesaikan persoalan sosial tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan.

AI: Kemajuan Teknologi yang Tidak Dapat Dihindari

Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memberikan manfaat yang luar biasa. Dalam dunia pendidikan, AI membantu mahasiswa memperoleh referensi dengan cepat, menerjemahkan jurnal internasional, menyusun ide penelitian, hingga meningkatkan kualitas penulisan akademik.

Di bidang bisnis, AI digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen, memprediksi permintaan pasar, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Sementara itu, di sektor kesehatan AI membantu dokter dalam membaca hasil radiologi, mempercepat diagnosis penyakit, dan mendukung penelitian obat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. UNESCO juga menegaskan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, namun pemanfaatannya harus selalu berlandaskan prinsip etika, penghormatan terhadap martabat manusia, transparansi, keadilan, dan akuntabilitas.

Ketika AI Menjadi Jalan Pintas

Di balik berbagai manfaat tersebut, muncul fenomena yang cukup memprihatinkan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Banyak mahasiswa mulai menggunakan AI bukan sebagai alat bantu belajar, melainkan sebagai pengganti proses berpikir.

Fenomena ini terlihat ketika tugas kuliah diselesaikan sepenuhnya menggunakan AI tanpa adanya proses membaca referensi, memahami konsep, maupun melakukan analisis secara mandiri. Akibatnya, mahasiswa memperoleh hasil tugas yang tampak baik, tetapi tidak mengalami proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Penelitian terbaru mengenai etika penggunaan AI di perguruan tinggi Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan AI yang semakin luas juga menimbulkan persoalan mengenai batas etika, plagiarisme, dan integritas akademik. Sebagian mahasiswa bahkan mengaku belum memahami secara jelas batas penggunaan AI yang dapat diterima dalam dunia pendidikan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukanlah kecanggihan AI, melainkan bagaimana manusia menggunakannya secara bertanggung jawab.

Perspektif Estetika Humanisme

Dalam perspektif Estetika Humanisme, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki akal, hati nurani, empati, kreativitas, dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, teknologi tidak boleh menggantikan esensi kemanusiaan. Modul pembelajaran menjelaskan bahwa Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari Revolusi Industri 4.0 dengan menempatkan manusia sebagai active player, bukan sekadar objek yang mengikuti perkembangan teknologi. Interaksi antara manusia dan mesin tetap diperlukan, tetapi keputusan akhir tetap berada pada manusia.

Artinya, AI seharusnya menjadi partner intelektual, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Jika mahasiswa menggunakan AI untuk memahami materi, mencari alternatif penyelesaian masalah, atau mempercepat analisis data, maka AI telah dimanfaatkan secara tepat. Sebaliknya, apabila AI digunakan hanya untuk menghasilkan jawaban instan tanpa proses belajar, maka manusia justru kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta integritas akademik. Dari sudut pandang humanisme, kecerdasan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga kemampuan memahami makna, mengambil keputusan secara etis, menghargai karya orang lain, dan bertanggung jawab terhadap setiap tindakan.

Society 5.0 Menghendaki Manusia yang Lebih Bijaksana

Society 5.0 bukan berarti semua pekerjaan dilakukan oleh AI. Sebaliknya, Society 5.0 menghendaki kolaborasi antara teknologi dan manusia. Teknologi memang mampu mengolah jutaan data dalam waktu singkat, tetapi teknologi tidak memiliki empati, hati nurani, maupun kebijaksanaan moral sebagaimana dimiliki manusia. Karena itu, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pengendali utama dalam pemanfaatan teknologi agar kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan penyelesaian persoalan sosial.

UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence juga menegaskan bahwa pengembangan AI harus selalu menjunjung tinggi martabat manusia, keadilan, inklusivitas, serta perlindungan hak asasi manusia. AI harus menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan menciptakan ketimpangan atau mengurangi otonomi manusia. Dengan demikian, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi sekadar mampu menggunakan AI, melainkan mampu menggunakan AI secara bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab.

Opini Penulis

Menurut saya, AI bukan ancaman bagi mahasiswa apabila digunakan secara proporsional. Justru AI dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila dimanfaatkan sebagai pendamping dalam proses belajar. Namun demikian, mahasiswa tetap harus mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, berdiskusi, dan melakukan analisis secara mandiri. Nilai-nilai tersebut merupakan kompetensi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Sebagai mahasiswa Manajemen, kemampuan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis akan menjadi kompetensi utama di masa depan. Seorang manajer tidak hanya dituntut mampu membaca data, tetapi juga memahami kondisi manusia yang berada di balik data tersebut.

Oleh karena itu, AI seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan melemahkan karakter manusia.

Penutup

Perkembangan Artificial Intelligence merupakan konsekuensi logis dari Revolusi Industri 4.0 yang tidak mungkin dihindari. Kehadirannya telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, bisnis, kesehatan, maupun kehidupan sosial. Namun demikian, Society 5.0 mengingatkan bahwa teknologi seharusnya tidak menjadi tujuan akhir, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, tanggung jawab, kreativitas, integritas, dan kebijaksanaan tetap harus menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan teknologi.

Pada akhirnya, masa depan bukan ditentukan oleh seberapa pintar teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya. AI dapat membantu manusia menjadi lebih produktif, tetapi hanya manusialah yang mampu memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Holmes, W., Porayska-Pomsta, K., & Nemorin, S. (2024). The Ethics of AI in Education. arXiv.

UNESCO. (2021). Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence.

UNESCO. (2024). AI Readiness Assessment for Indonesia

Yamani, Z., Raflesia, S. P., Lestarini, D., Athalina, G., & Sari, P. (2026). Mapping Global Ethical AI Principles into Indonesian Higher Education. IAES International Journal of Artificial Intelligence.

Reina Marín, Y., Cruz Caro, O., Carrasco Rituay, A. M., & Guimac Llanos, K. A. (2025). Ethical Challenges Associated with the Use of Artificial Intelligence in University Education. Journal of Academic Ethics.

Modul Pembelajaran Mata Kuliah Universitas Estetika Humanisme: Industri 4.0 & Society 5.0. Universitas Siber Asia.