DESA KWASEN – Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) memberikan edukasi mengenai pencatatan keuangan sederhana dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) kepada ibu-ibu pengajian Fatayat di Dukuh Binangun, Desa Kwasen, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini merupakan arahan dari Kepala Dukuh Binangun sebagai upaya untuk mendorong pemanfaatan potensi ibu rumah tangga melalui kegiatan yang produktif.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Nuraida Naelia Masfufah, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip. Edukasi yang diberikan berfokus pada pengelolaan keuangan sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Peserta dikenalkan dengan cara mencatat pemasukan dan pengeluaran serta memahami biaya yang perlu diperhitungkan sebelum menentukan harga jual suatu produk.
Berangkat dari Potensi Ibu Rumah Tangga
Gagasan kegiatan ini berawal dari arahan Kepala Dukuh Binangun yang melihat adanya potensi ibu-ibu rumah tangga untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan usaha rumahan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing warga.
Keterampilan yang dimiliki ibu-ibu dalam membuat makanan, jajanan, maupun produk rumahan dapat menjadi peluang untuk dikembangkan menjadi usaha. Namun, keterampilan dalam menghasilkan produk perlu diimbangi dengan pengetahuan mengenai pengelolaan usaha, khususnya dalam hal keuangan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pencatatan keuangan. Dalam usaha kecil, pemasukan dan pengeluaran yang tidak dicatat secara rutin dapat membuat pemilik usaha kesulitan mengetahui kondisi keuangannya. Pengeluaran untuk membeli bahan, kemasan, maupun kebutuhan produksi lainnya juga perlu diperhatikan agar dapat diketahui berapa biaya yang sebenarnya dikeluarkan.
Selain itu, uang yang digunakan untuk kebutuhan usaha dan kebutuhan pribadi juga perlu dibedakan. Pencatatan yang sederhana dapat membantu pemilik usaha mengetahui aliran uang serta melihat perkembangan usaha dari waktu ke waktu.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memperkenalkan pencatatan keuangan yang dapat dilakukan dengan cara sederhana. Peserta tidak diarahkan untuk menggunakan sistem pencatatan yang rumit, tetapi mulai membiasakan diri mencatat transaksi yang berkaitan dengan kegiatan usaha.
Mengenalkan Perhitungan HPP.
Selain pencatatan keuangan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai Harga Pokok Produksi (HPP). Materi ini diberikan untuk membantu peserta memahami biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi sebelum menentukan harga jual.
Peserta dikenalkan dengan beberapa komponen biaya produksi, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya pendukung seperti gas, listrik, dan kemasan. Seluruh biaya tersebut perlu diperhitungkan agar pemilik usaha dapat mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.
Pemahaman mengenai HPP juga berkaitan dengan cara menentukan harga jual. Dengan mengetahui biaya produksi, pelaku usaha dapat menentukan harga secara lebih terukur dan mempertimbangkan keuntungan yang ingin diperoleh. Hal ini menjadi penting agar harga jual tidak hanya ditentukan berdasarkan perkiraan atau mengikuti harga produk sejenis.
Materi mengenai HPP disampaikan dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan kegiatan usaha yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut dilakukan agar peserta dapat memahami bahwa pencatatan dan perhitungan biaya tidak hanya diperlukan oleh perusahaan besar, tetapi juga dapat diterapkan dalam usaha yang dijalankan dari rumah.
Pencatatan Keuangan Dimulai dari Hal Sederhana
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak memahami bahwa pengelolaan keuangan usaha dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Setiap pemasukan dari hasil penjualan perlu dicatat, begitu pula dengan pengeluaran yang digunakan untuk membeli bahan baku, kemasan, maupun kebutuhan produksi lainnya.
Catatan tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat perbandingan antara uang yang masuk dan uang yang keluar. Dengan pencatatan yang dilakukan secara rutin, pemilik usaha dapat memiliki gambaran mengenai kondisi keuangan usahanya dan mengetahui hasil yang diperoleh dari kegiatan usaha.
Pemisahan antara uang usaha dan uang pribadi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan. Dengan memisahkan keduanya, pemilik usaha dapat lebih mudah mengetahui jumlah modal yang digunakan dan perkembangan keuangan usaha tanpa tercampur dengan kebutuhan rumah tangga.
Dalam penyampaian materi, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai pencatatan dan perhitungan biaya yang dapat diterapkan pada kegiatan usaha mereka. Diskusi tersebut membuat materi yang disampaikan lebih dekat dengan kondisi dan kebutuhan peserta.
Mendorong Pengembangan Usaha Rumahan
Kegiatan edukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi ibu-ibu Fatayat di Dukuh Binangun untuk lebih memahami pentingnya pengelolaan keuangan dalam menjalankan usaha. Pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan ketika peserta mulai mengembangkan produk atau menjalankan usaha secara lebih rutin.
Pencatatan keuangan yang sederhana dapat membantu pemilik usaha melihat jumlah pemasukan, pengeluaran, serta hasil yang diperoleh. Sementara itu, pemahaman mengenai HPP dapat menjadi dasar dalam menentukan harga jual yang sesuai dengan biaya produksi.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan agar dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Edukasi tidak hanya berfokus pada teori akuntansi, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di Dukuh Binangun.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip berharap pengetahuan mengenai pencatatan keuangan dan perhitungan HPP dapat membantu ibu-ibu Fatayat Dukuh Binangun dalam mengelola kegiatan usaha secara lebih teratur. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap pemanfaatan potensi masyarakat dan pengembangan kegiatan ekonomi berbasis rumah tangga di Desa Kwasen.











