YOGYAKARTA, Senin (12/10/2026) — Berapa banyak foto yang kita bawa pulang dari sebuah perjalanan, dan berapa banyak yang benar-benar mengubah cara kita berpikir? Pertanyaan itu terasa mengusik ketika Jogja Educulture Journey – Laras Triloka diluncurkan di GIK UGM. Peluncuran ditandai penandatanganan kerja sama antara Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan, dan PT Anindya Mitra International.
Tiga destinasi dirangkai dalam satu pengalaman wisata edukatif, dihubungkan layanan shuttle wisata bertenaga listrik. Di atas kertas, ini inovasi produk wisata. Di balik itu, ada klaim yang lebih berani: perjalanan bisa menjadi proses pendidikan.
Tiga Dimensi, Satu Kesatuan Manusia
Ketua Yayasan Aji Dharma Nusantara (YADN), Aulia Reza Bastian, menjelaskan bahwa Laras Triloka dibangun di atas tiga unsur yang saling melengkapi. Taman Pintar merepresentasikan kognisi, Taman Budaya Embung Giwangan afeksi, dan Taman Bhineka GIK UGM inovasi.
“Jadi kalau sains kita bicara ilmu pengetahuan itu adalah kognisi, itu ada di Taman Pintar. Kemudian kalau kita bicara afeksi itu ada di sini, di Taman Budaya,” demikian inti penjelasan Reza, yang kemudian menempatkan inovasi di GIK UGM.
Ketiganya membentuk ketajaman nalar, kepekaan nurani, dan kemandirian sikap juang. Filosofi ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sebagai pembentukan manusia secara utuh.
Dalam kacamata teori pendidikan, pembagian ini punya jejak yang panjang. Taksonomi Bloom (1956) membedakan tujuan belajar ke dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam revisinya, Anderson dan Krathwohl (2001) menempatkan “mencipta” sebagai tingkat tertinggi proses kognitif. Dalam tradisi Indonesia, gagasan “ngerti, ngrasa, nglakoni” yang kerap dikaitkan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara menawarkan struktur serupa: memahami, menghayati, lalu bertindak. Membaca Laras Triloka lewat dua kerangka ini bukan pencocokan paksa, melainkan penanda bahwa program ini berdiri di atas gagasan lama yang jarang diterjemahkan ke dalam produk wisata.
Dari Konsumsi Pemandangan ke Pengalaman Belajar
Sosiolog John Urry (1990) memperkenalkan konsep tourist gaze, yakni cara wisatawan memandang tempat sebagai tontonan yang dikonsumsi. Dean MacCannell (1976) lebih awal mengingatkan bahwa pencarian keaslian dalam wisata sering berujung pada “keaslian yang dipentaskan”. Pine dan Gilmore (1998) kemudian menunjukkan bahwa ekonomi modern bergerak ke arah penjualan pengalaman, bukan sekadar barang dan jasa.
Laras Triloka berada di persimpangan ketiganya. Ia menawarkan pengalaman, tetapi dengan ambisi yang lebih tinggi daripada hiburan: pengunjung diajak memahami, menghayati, dan mencipta. Dalam studi museum, Falk dan Dierking melalui Contextual Model of Learning menegaskan bahwa belajar di ruang non-formal dipengaruhi konteks pribadi, sosial, dan fisik. Artinya, kualitas belajar tidak hanya ditentukan oleh isi pameran, tetapi juga oleh siapa yang datang bersama kita, bagaimana kita bergerak di antara ruang, dan apa yang kita bawa dari rumah. Pengalaman belajar rancangan Kolb (1984) menambahkan satu hal lagi: pengetahuan tumbuh dari siklus mengalami, merefleksikan, memahami konsep, lalu mencoba kembali.
Pertanyaannya, apakah satu rangkaian perjalanan dari taman ke taman cukup memberi ruang bagi siklus itu? Pengunjung yang berpindah lokasi dengan jadwal ketat bisa saja mengalami, tetapi tidak sempat merefleksikan.
Kerja Sama Belum Berarti Perjalanan
Kepala Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengingatkan bahwa tanda tangan bukan garis akhir. Keberhasilan program ini menurutnya bergantung pada perencanaan operasional yang terperinci: rute, urutan kunjungan, alokasi waktu di setiap destinasi, dan moda transportasi.
“Kita perlu merancang rute perjalanan secara lebih mendetail,” ujarnya, agar perjalanan efektif, nyaman, dan mudah diakses oleh siapa pun.
Frasa “oleh siapa pun” menyentuh persoalan yang sering luput dalam wisata edukasi: aksesibilitas dan keadilan. Literatur pariwisata berkelanjutan menekankan keseimbangan tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Yetti menyuarakan semangat yang sama ketika menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi, tujuan edukasi, dan pelestarian budaya harus berjalan seimbang. Pengalaman banyak destinasi di dunia menunjukkan bahwa keseimbangan ini mudah timpang ketika satu kepentingan, biasanya yang paling cepat menghasilkan uang, menjadi dominan.
Maka ada ujian yang tidak tertulis dalam nota kerja sama. Apakah Laras Triloka akan menjadi ruang belajar yang terjangkau bagi pelajar, keluarga, dan komunitas dari berbagai latar ekonomi? Atau menjadi paket wisata dengan bahasa yang lebih tinggi, tetapi tetap eksklusif dalam praktik?
Shuttle Listrik: Mobilitas sebagai Bagian dari Makna
Shuttle wisata bertenaga listrik bukan sekadar kendaraan penghubung. Ia mencerminkan upaya memasukkan aspek ramah lingkungan ke dalam pengalaman wisata. Dalam perspektif pariwisata, transportasi sering menjadi sumber jejak karbon terbesar dari sebuah perjalanan, sehingga pilihan moda adalah pernyataan nilai, bukan urusan teknis semata.
Integrasi transportasi juga menentukan pengalaman itu sendiri. Pengalaman wisata terpadu tidak hanya ditentukan oleh kualitas atraksi, tetapi juga oleh kemudahan akses dan kenyamanan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain. Perjalanan di dalam shuttle adalah ruang transisi, dan ruang transisi bisa menjadi waktu refleksi, bila dirancang demikian.
Perjumpaan sebagai Mesin Kreativitas
Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, menyebut kreativitas tumbuh melalui interaksi dan perjumpaan, antarmanusia maupun antargagasan. “Harapannya dengan adanya konsep Laras Triloka dan juga Taman Bhineka ini, akan terjadi banyak perjumpaan yang melahirkan inovasi dan kreativitas,” tuturnya.
Pandangan ini selaras dengan teori pembelajaran sosial-konstruktivis yang berakar pada Vygotsky: pengetahuan dibangun bersama lewat interaksi, bukan dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain. Inovasi, dalam logika ini, tidak lahir dari ruang yang steril. Ia lahir ketika pengetahuan yang kokoh bertemu budaya yang hidup, dan ketika orang-orang yang berbeda dipertemukan.
Di sini tersimpan pesan paling tajam dari program ini. Pengetahuan tanpa kepekaan budaya berisiko menjadi dingin. Budaya tanpa pengetahuan berisiko menjadi nostalgia. Inovasi tanpa keduanya berisiko kehilangan arah.
Pertanyaan yang Tersisa
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Laras Triloka tidak akan ditemukan dalam jumlah tanda tangan, jumlah tiket, atau panjang rute. Ukurannya ada pada hal yang paling sulit dihitung: apakah pengunjung pulang dengan nalar yang lebih tajam, nurani yang lebih peka, dan keberanian untuk mencipta.
Itu pula yang menjadi tantangan bagi para penyelenggara. Tanpa evaluasi yang serius, misalnya riset kepuasan dan dampak belajar, keterlibatan komunitas lokal, serta kajian keberlanjutan, klaim edukasi mudah berhenti sebagai slogan.
Reza berharap program ini menggugah pelaku wisata lain untuk menghadirkan konsep serupa. Harapan itu akan terwujud jika Yogyakarta berani mengubah pertanyaan dasarnya: bukan lagi “ke mana kita pergi?”, melainkan “siapa kita ketika pulang?”











