Scroll untuk baca artikel
Opini

Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia

×

Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia

Sebarkan artikel ini
Picture2

Penulis : Maria Kristina Pau, Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Edukasi Update, Opini – Bahasa merupakan alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Melalui bahasa, seseorang dapat menyampaikan pikiran, perasaan, pendapat, dan informasi kepada orang lain. Di Indonesia, Bahasa Indonesia memiliki kedudukan penting sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, teknologi, dan media sosial, muncul berbagai bentuk bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah bahasa gaul.

Bahasa gaul merupakan bentuk bahasa informal yang banyak digunakan dalam pergaulan sehari-hari, khususnya oleh generasi muda. Kata-kata seperti “nggak”, “kepo”, “baper”, “mager”, “santuy”, “spill”, dan berbagai istilah lainnya semakin mudah ditemukan dalam percakapan maupun media sosial. Perkembangan bahasa gaul menunjukkan bahwa bahasa selalu mengalami perubahan mengikuti perkembangan masyarakat dan teknologi.

Menurut penelitian Fadilla, Alwansyah, dan Anggriawan (2023), penggunaan bahasa gaul cukup kuat di kalangan mahasiswa. Penelitian terhadap 50 responden menunjukkan bahwa 98% responden mengenal istilah bahasa gaul dan 96% responden menyatakan lebih cepat menyerap bahasa gaul dibandingkan Bahasa Indonesia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa bahasa gaul banyak digunakan ketika mahasiswa berkomunikasi dengan teman.

Menurut saya, fenomena tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Bahasa gaul dapat membuat komunikasi menjadi lebih santai, akrab, dan sesuai dengan kebiasaan kelompok tertentu. Dalam percakapan dengan teman sebaya, penggunaan bahasa gaul sering kali membuat seseorang merasa lebih dekat dengan lawan bicaranya. Selain itu, munculnya istilah-istilah baru juga menunjukkan adanya kreativitas masyarakat dalam mengembangkan bahasa.

Namun, penggunaan bahasa gaul perlu disesuaikan dengan situasi. Bahasa yang cocok digunakan ketika berbicara dengan teman belum tentu tepat digunakan dalam lingkungan akademik atau situasi resmi. Misalnya, kata “nggak” dapat digunakan dalam percakapan santai, tetapi dalam makalah, laporan, atau karya ilmiah lebih tepat menggunakan kata “tidak”. Oleh karena itu, menurut saya, persoalannya bukan terletak pada boleh atau tidaknya menggunakan bahasa gaul, tetapi pada kemampuan seseorang membedakan bahasa informal dan bahasa formal.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian Sari (2025) yang menyatakan bahwa bahasa gaul dapat memberikan pengaruh terhadap ketepatan penggunaan Bahasa Indonesia, khususnya dalam kosakata dan struktur kalimat. Namun, penelitian tersebut juga menemukan sisi positif bahasa gaul, yaitu dapat meningkatkan kreativitas linguistik dan solidaritas sosial di antara remaja.

Pendapat tersebut menarik karena menunjukkan bahwa bahasa gaul tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif. Bahasa gaul dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas kelompok dan menciptakan hubungan sosial yang lebih dekat. Penelitian mengenai dinamika penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa gaul pada remaja juga menemukan bahwa bahasa gaul dapat berfungsi sebagai simbol identitas kelompok dan sarana kreativitas.

Di sisi lain, penggunaan bahasa gaul secara berlebihan dapat menjadi masalah apabila seseorang tidak mampu menyesuaikan bahasa dengan situasi. Penelitian Fadilla, Alwansyah, dan Anggriawan (2023), misalnya, menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa gaul dapat mengikis penggunaan Bahasa Indonesia apabila tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap penggunaan bahasa yang tepat.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempercepat perkembangan bahasa gaul. Sebuah istilah dapat menjadi populer hanya dalam waktu singkat karena digunakan berulang kali di berbagai platform digital. Penelitian terbaru mengenai mahasiswa Gen Z juga menunjukkan bahwa bahasa gaul di media sosial memiliki sisi positif berupa kreativitas dan kedekatan sosial, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat menurunkan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam konteks akademik.

Menurut saya, generasi muda tidak perlu dilarang menggunakan bahasa gaul. Larangan secara keseluruhan justru kurang sesuai dengan sifat bahasa yang selalu berkembang. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap situasi memiliki kebutuhan bahasa yang berbeda. Ketika berbicara dengan teman, bahasa gaul dapat digunakan secara wajar. Akan tetapi, ketika menulis makalah, berbicara dalam forum resmi, melakukan presentasi akademik, atau membuat dokumen resmi, penggunaan Bahasa Indonesia yang baku perlu diutamakan.

Dengan demikian, bahasa gaul dan Bahasa Indonesia seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang harus saling menghilangkan. Bahasa gaul dapat menjadi bagian dari perkembangan komunikasi masyarakat, sedangkan Bahasa Indonesia tetap harus dijaga kedudukannya sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Keduanya dapat digunakan sesuai dengan konteks dan tujuan komunikasi.

Pada akhirnya, menurut saya, kemampuan berbahasa yang baik bukan berarti seseorang harus selalu menggunakan bahasa baku dalam setiap keadaan. Kemampuan berbahasa justru terlihat dari kemampuan seseorang memilih bahasa yang tepat sesuai dengan situasi, lawan bicara, dan tujuan komunikasi. Bahasa gaul boleh berkembang, tetapi generasi muda tetap harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar ketika berada dalam situasi formal. Dengan keseimbangan tersebut, perkembangan bahasa gaul tidak harus menjadi ancaman bagi Bahasa Indonesia, tetapi dapat menjadi bagian dari dinamika bahasa di tengah perkembangan zaman.

Referensi

  1. Fadilla, A. S., Alwansyah, Y., & Anggriawan, A. (2023). Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Oleh Mahasiswa. EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia), 3(1).
  2. Sari, B. P. (2025). Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(3), 250–258.
  3. Siregar, H., Tampubolon, Q. A., Ribreka, D., Pratama, O. J., & Tansliova, L. (2024). Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Gen Z. Bersatu: Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika, 2(3), 40–53.
  4. Putri, M. E., & Bambang, S. E. M. (2026). Pengaruh Bahasa Gaul di Media Sosial terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Mahasiswa Gen Z. Indonesian Journal of Education, 3(1), 768–775.