Scroll untuk baca artikel
Daerah

Tim PKM pendidikan IPA UNM membuat Inovasi Alat Pengolah Padi Menjadi Sekam Bakar dan Asap Cair

×

Tim PKM pendidikan IPA UNM membuat Inovasi Alat Pengolah Padi Menjadi Sekam Bakar dan Asap Cair

Sebarkan artikel ini
Foto Bentuk dan Hasil ujicoba Alat
Foto Bentuk dan Hasil ujicoba Alat

MAROS, SULAWESI SELATAN – Upaya meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah usaha penggilingan padi terus dilakukan melalui penerapan inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang diketuai oleh Dr. Sitti Saenab, S.Pd., M.Pd., bersama anggota Putri Damayanti, S.Si., M.Si., Shoffan Fathullah, S.Pd., M.Pd., dan Irwandi Rahmat, S.Pd., M.Ed., melaksanakan program bertajuk “Penguatan Produktivitas Usaha Pebrik Gabah Keliling melalui Inovasi Teknologi Pemanfaatan Limbah Kulit Padi Menjadi Pestisida Cair Organik di Kabupaten Maros.”

Program ini menyasar kelompok usaha penggilingan padi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebagai mitra utama. Kegiatan tersebut dirancang untuk menjawab salah satu permasalahan yang umum dihadapi pelaku usaha penggilingan padi, yaitu belum optimalnya pemanfaatan limbah kulit padi atau sekam yang dihasilkan selama proses produksi.

Selama ini, sekam padi sering kali hanya dianggap sebagai limbah dengan nilai ekonomi yang rendah, bahkan berpotensi menjadi masalah lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Melalui program pengabdian ini, limbah tersebut dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai melalui penerapan teknologi pengolahan sekam menjadi sekam bakar serta asap cair yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida cair organik.

Tahap awal kegiatan difokuskan pada pengembangan dan penyempurnaan alat pengolahan limbah sekam padi. Alat tersebut dirancang agar dapat membantu mitra melakukan proses pembakaran sekam secara lebih terkendali sekaligus menghasilkan dua produk, yaitu sekam bakar dan asap cair.

Setelah melalui proses pengembangan, tim selanjutnya melakukan serangkaian uji coba untuk memastikan alat dapat beroperasi dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan kelompok usaha di lapangan. Hasil uji coba menjadi dasar bagi tim untuk melanjutkan program ke tahap implementasi langsung bersama mitra.

Ketua tim pengabdian, Dr. Sitti Saenab, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan pada pengenalan sebuah teknologi, tetapi juga pada peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam mengolah hasil samping produksi menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi lebih tinggi.

Pemanfaatan sekam menjadi sekam bakar dapat membuka peluang penggunaannya untuk berbagai kebutuhan pertanian, terutama sebagai bahan pendukung media tanam dan pembenah tanah. Sementara itu, asap cair hasil proses pengolahan berpotensi dikembangkan sebagai bahan pestisida cair organik sehingga dapat memberikan alternatif produk bagi kelompok usaha penggilingan padi.

Setelah tahap pengembangan alat dan uji coba selesai dilakukan, program kini memasuki tahapan penting berupa penerapan teknologi secara langsung di lapangan melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok usaha penggilingan padi di Kabupaten Maros.

Dalam tahap tersebut, tim pengabdian memberikan pemahaman mengenai cara pengoperasian alat, proses pengolahan sekam, pengumpulan dan pengolahan asap cair, hingga pemanfaatan produk yang dihasilkan. Pendampingan juga dilakukan agar mitra tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri, tetapi juga memahami potensi pengembangan produk sebagai sumber pendapatan tambahan.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan diharapkan dapat meningkatkan keterampilan kelompok usaha dalam mengelola limbah hasil penggilingan padi sekaligus memperkuat produktivitas usaha mereka. Dengan demikian, kegiatan penggilingan padi tidak hanya menghasilkan produk utama berupa beras, tetapi juga mampu mengembangkan produk turunan dari limbah produksi.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatan usaha masyarakat. Limbah yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang diversifikasi usaha.

Melalui kolaborasi antara tim perguruan tinggi dan kelompok usaha penggilingan padi, penerapan inovasi teknologi ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. Selain meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah, teknologi yang dikembangkan juga diharapkan mampu menciptakan peluang usaha baru, meningkatkan nilai tambah hasil produksi, serta memperkuat kemandirian ekonomi kelompok usaha di Kabupaten Maros.

Ke depan, pendampingan akan terus diarahkan pada penguatan kemampuan mitra dalam proses produksi, pemanfaatan produk, serta pengembangan nilai ekonomi dari sekam bakar dan asap cair. Dengan pendekatan tersebut, kelompok usaha diharapkan mampu mengembangkan model usaha penggilingan padi yang semakin produktif, inovatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.