Scroll untuk baca artikel
Daerah

Dosen Arsitektur UNM Revitalisasi Dinding Kelas Menjadi Media Pembelajaran Edukatif

×

Dosen Arsitektur UNM Revitalisasi Dinding Kelas Menjadi Media Pembelajaran Edukatif

Sebarkan artikel ini
Picture1jhgfrrrr
Tim Dosen Program Studi Arsitektur UNM bersama pihak RA Sekolah Cendekia Berseri saat melakukan revitalisasi dinding kelas menjadi media pembelajaran edukatif.

Makassar — Tim Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa revitalisasi dinding edukatif di RA Sekolah Cendekia Berseri, Jl. Hertasning Blok E.10 No. 9, Kota Makassar, pada 12 April 2026. Kegiatan yang didanai melalui PNBP Fakultas Teknik UNM ini bertujuan mengoptimalkan lingkungan fisik sekolah sebagai bagian dari pengalaman belajar anak usia dini.

RA Sekolah Cendekia Berseri memiliki sekitar 30 peserta didik berusia 4–6 tahun. Dalam kondisi awal, dinding ruang kelas masih lebih banyak berfungsi sebagai elemen pembatas ruang dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran visual. Melalui kegiatan ini, tim dosen Arsitektur UNM mengembangkan konsep dinding edukatif yang mengintegrasikan unsur arsitektur, desain visual, dan kebutuhan pembelajaran anak usia dini.

Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan participatory action-based community service, yang menempatkan guru dan komunitas sekolah sebagai bagian aktif dalam proses revitalisasi. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kondisi awal, diskusi dan co-design bersama guru, persiapan serta perbaikan permukaan dinding, pemasangan media edukatif, pendampingan, hingga evaluasi hasil kegiatan. Kegiatan ini melibatkan tim dosen Prodi Arsitektur UNM bersama pihak sekolah sebagai mitra, dengan sasaran utama terciptanya lingkungan belajar yang lebih informatif, fungsional, menarik, dan mendukung aktivitas belajar anak usia 4–6 tahun.

“Lingkungan belajar tidak hanya terbatas pada meja, kursi, dan papan tulis. Elemen arsitektur seperti dinding juga dapat menjadi bagian dari proses belajar apabila dirancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak,” ujar tim pelaksana kegiatan.

Revitalisasi dilakukan dengan menghadirkan berbagai elemen visual seperti huruf, angka, gambar, warna, dan pola yang disesuaikan dengan konteks pembelajaran anak usia dini. Elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi memperindah ruang, tetapi juga dapat digunakan guru untuk mengajak anak mengamati, mengenali, membandingkan, dan mendiskusikan berbagai konsep sederhana.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan pada kualitas fisik dan visual ruang belajar. Dinding yang sebelumnya relatif pasif berubah menjadi media visual yang lebih informatif, fungsional, dan edukatif. Perubahan juga terlihat pada aspek kerapian, daya tarik ruang, ketersediaan media pembelajaran visual, serta peluang pemanfaatan dinding dalam aktivitas pembelajaran.

Keterlibatan guru menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan tersebut. Melalui proses co-design, kebutuhan pembelajaran dan karakteristik peserta didik menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk, warna, informasi, serta penempatan media edukatif. Dengan demikian, hasil revitalisasi tidak hanya berorientasi pada perubahan tampilan ruang, tetapi juga diarahkan agar dapat digunakan secara nyata dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Tim dosen menilai bahwa pendekatan tersebut menunjukkan potensi arsitektur dalam mendukung proses pendidikan anak usia dini melalui intervensi yang relatif sederhana. Revitalisasi dinding dapat dilakukan tanpa mengubah struktur bangunan secara signifikan, namun tetap mampu memberikan nilai tambah terhadap kualitas lingkungan belajar.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh bahwa peningkatan kualitas lingkungan pendidikan tidak selalu membutuhkan perubahan bangunan secara besar. Dengan perencanaan yang tepat, elemen ruang yang sudah ada dapat diolah menjadi bagian dari proses pembelajaran,” lanjut tim pelaksana.

Meski demikian, pengembangan lingkungan belajar anak tetap perlu memperhatikan sejumlah aspek, antara lain kesesuaian dengan usia anak, keamanan material dan pemasangan, keterbacaan informasi, relevansi dengan materi pembelajaran, serta kemudahan bagi guru dalam memanfaatkannya.

Melalui kegiatan PkM ini, Tim Dosen Program Studi Arsitektur UNM menunjukkan kontribusi bidang arsitektur tidak hanya dalam perancangan bangunan, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses pendidikan dan perkembangan anak. Program ini sekaligus menjadi bentuk penerapan keilmuan arsitektur secara langsung melalui kolaborasi dengan komunitas sekolah.

Kegiatan revitalisasi dinding edukatif di RA Sekolah Cendekia Berseri diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi sekolah serta menjadi inspirasi bagi pengembangan lingkungan belajar anak usia dini yang lebih interaktif, informatif, aman, dan menyenangkan.