Edukasi Update, Kolom – Di banyak perusahaan, kata “target” menjadi sesuatu yang sangat familiar bagi karyawan. Target penjualan, target produktivitas, target pelayanan, target penyelesaian pekerjaan, hingga target kepuasan pelanggan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di dunia kerja.
Target memang penting. Tanpa target, perusahaan akan kesulitan mengetahui apakah kinerjanya berkembang atau tidak. Namun, ada satu hal yang menurut saya sering terlupakan: karyawan bukanlah mesin pencetak angka.
Seorang karyawan memiliki kemampuan, emosi, motivasi, kebutuhan untuk berkembang, dan tujuan karier. Ketika perusahaan hanya melihat karyawan dari angka pencapaiannya, perusahaan sebenarnya hanya melihat sebagian kecil dari potensi yang dimiliki seseorang.
Di sinilah manajemen kinerja talenta menjadi penting.
Manajemen Kinerja Bukan Sekadar Memberi Nilai
Manajemen kinerja sering kali dianggap sama dengan penilaian kinerja. Padahal, keduanya memiliki perbedaan.
Penilaian kinerja lebih berfokus pada evaluasi hasil kerja pada periode tertentu. Sementara itu, manajemen kinerja merupakan proses yang lebih luas dan berkelanjutan, mulai dari perencanaan, pemantauan, evaluasi, hingga pengembangan karyawan. Modul Talent Management menjelaskan bahwa manajemen kinerja merupakan proses sistematis untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi karyawan melalui tujuan yang jelas, evaluasi berkelanjutan, umpan balik, dan pengembangan kompetensi.
Artinya, perusahaan seharusnya tidak hanya bertanya:
“Berapa target yang sudah dicapai?”
Tetapi juga:
“Mengapa target tersebut tercapai atau tidak tercapai?”
“Kompetensi apa yang sudah dimiliki karyawan?”
“Apa yang perlu dikembangkan?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Apa yang dapat dilakukan perusahaan agar karyawan mampu memberikan kinerja yang lebih baik?”
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan inti dari manajemen kinerja yang lebih manusiawi.
Ketika Target Justru Menjadi Beban
Bayangkan seorang karyawan yang setiap bulan diberikan target tinggi. Ketika target tercapai, perusahaan hanya mengatakan, “Bagus, pertahankan.”
Ketika target tidak tercapai, respons yang diberikan justru, “Kenapa targetnya tidak tercapai?”
Masalahnya, tidak pernah ada pembicaraan mengenai apa yang menjadi kendala karyawan tersebut.
Apakah ia kekurangan keterampilan?
Apakah targetnya realistis?
Apakah ia membutuhkan pelatihan?
Apakah beban kerjanya terlalu tinggi?
Atau mungkin ia sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak mendapatkan arahan dari atasannya?
Jika perusahaan hanya fokus pada hasil tanpa memahami proses di balik hasil tersebut, maka manajemen kinerja dapat berubah menjadi sekadar alat untuk menekan karyawan.
Padahal, tujuan manajemen kinerja seharusnya juga membantu karyawan berkembang. Dalam modul Talent Management, manajemen kinerja dijelaskan sebagai proses yang bukan hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memotivasi dan mengembangkan potensi karyawan.
Talenta Tidak Hanya Dilihat dari Angka
Menurut saya, salah satu kesalahan dalam mengelola talenta adalah menganggap karyawan dengan angka kinerja tertinggi otomatis menjadi talenta terbaik.
Padahal belum tentu.
Misalnya terdapat dua orang sales.
Karyawan A berhasil mencapai 120% target penjualan, tetapi mendapatkan pelanggan dengan cara yang kurang etis dan tidak mampu bekerja sama dengan tim.
Sementara Karyawan B mencapai 105% target, tetapi memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mampu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, aktif membantu rekan kerja, dan memiliki kemampuan problem solving yang kuat.
Siapa yang lebih layak dikembangkan menjadi pemimpin?
Jika hanya melihat angka, mungkin Karyawan A.
Namun, jika melihat kinerja sekaligus kompetensi, Karyawan B bisa jadi memiliki potensi kepemimpinan yang lebih besar.
Inilah alasan mengapa pendekatan Competency by Objective (CBO) menarik untuk diterapkan dalam manajemen kinerja talenta.
CBO tidak hanya melihat apa yang berhasil dicapai karyawan (what is achieved), tetapi juga bagaimana tujuan tersebut dicapai melalui kompetensi, sikap, dan proses kerja.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya memberikan penghargaan kepada karyawan karena mencapai angka, tetapi juga memperhatikan cara karyawan mencapai angka tersebut.
Dari “Apa Hasilnya?” Menjadi “Bagaimana Cara Mencapainya?”
Menurut saya, perubahan cara berpikir ini sangat penting.
Perusahaan membutuhkan hasil, tetapi hasil yang baik seharusnya diperoleh melalui proses yang baik pula.
Misalnya seorang Customer Service memiliki target menurunkan jumlah komplain pelanggan sebesar 30%.
Jika hanya menggunakan KPI, perusahaan mungkin hanya melihat apakah angka 30% tersebut tercapai.
Namun dengan pendekatan CBO, perusahaan dapat melihat kompetensi yang mendukung pencapaian tersebut, seperti:
- kemampuan komunikasi;
- empati;
- kemampuan menangani konflik;
- kecepatan merespons pelanggan;
- kemampuan problem solving.
Dengan cara tersebut, perusahaan tidak hanya mengetahui hasil kerja, tetapi juga mengetahui kemampuan yang dimiliki karyawan untuk menghasilkan kinerja tersebut.
Modul Talent Management bahkan memberikan contoh bahwa pencapaian tujuan perlu diukur bersama kompetensi yang digunakan untuk mencapainya.
Menurut saya, inilah bentuk manajemen kinerja yang lebih adil.
Feedback Jangan Hanya Muncul Saat Karyawan Salah
Hal lain yang sering menjadi masalah adalah feedback.
Tidak sedikit karyawan yang baru mendapatkan perhatian dari atasannya ketika melakukan kesalahan.
Ketika bekerja dengan baik, tidak ada feedback.
Ketika melakukan kesalahan, baru dipanggil.
Menurut saya, pola seperti ini harus diubah.
Feedback seharusnya menjadi percakapan yang dilakukan secara rutin, bukan hukuman yang diberikan ketika terjadi masalah.
Feedback yang baik harus spesifik, tepat waktu, jelas, membangun, fokus pada perilaku, dilakukan dua arah, konsisten, serta memberikan solusi.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Kamu kerjanya kurang bagus.”
Akan lebih baik jika atasan mengatakan:
“Dalam laporan minggu ini masih ada beberapa data yang belum sesuai. Mari kita cek bagian yang salah dan cari cara supaya minggu depan kesalahan tersebut tidak terulang.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Kalimat pertama membuat karyawan merasa disalahkan.
Kalimat kedua memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memahami masalah dan memperbaikinya.
Feedback seharusnya membuat karyawan ingin menjadi lebih baik, bukan takut melakukan kesalahan.
Karyawan Juga Perlu Tahu Masa Depannya
Manajemen kinerja juga seharusnya memiliki hubungan dengan pengembangan karier.
Jika seorang karyawan memiliki kinerja baik, perusahaan perlu mengetahui:
“Apakah orang ini memiliki potensi untuk menjadi pemimpin?”
Jika jawabannya iya, maka perusahaan perlu memberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan, komunikasi, pengambilan keputusan, dan problem solving.
Dengan kata lain, hasil penilaian kinerja seharusnya tidak berhenti pada angka.
Hasil tersebut dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan pelatihan, promosi, rotasi, hingga perencanaan karier. Modul Talent Management juga menjelaskan bahwa manajemen kinerja dapat menjadi dasar keputusan manajerial sekaligus membantu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan dan pelatihan.
Menurut saya, karyawan akan lebih termotivasi ketika mereka mengetahui bahwa perusahaan tidak hanya menilai masa lalu mereka, tetapi juga memikirkan masa depan mereka.
Era AI Membuat Cara Mengelola Talenta Semakin Penting
Perubahan teknologi dan perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuat perusahaan semakin dituntut untuk meningkatkan produktivitas.
Namun, di tengah perubahan tersebut, pendekatan terhadap manusia justru tidak boleh semakin kehilangan sisi kemanusiaannya.
AI dapat membantu perusahaan mengolah data, membuat laporan, atau mempercepat pekerjaan tertentu. Tetapi kemampuan seperti empati, kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan memahami manusia tetap memiliki peran penting.
Karena itu, menurut saya, perusahaan harus menggunakan teknologi untuk mendukung manajemen kinerja, bukan sekadar mengawasi karyawan.
Data kinerja dapat digunakan untuk menemukan skill gap, menentukan kebutuhan pelatihan, dan membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih objektif.
Teknologi seharusnya menjawab pertanyaan:
“Bagaimana kita dapat membantu karyawan bekerja lebih baik?”
Bukan hanya:
“Bagaimana kita dapat mengawasi karyawan lebih ketat?”
Kinerja yang Baik Harus Dibangun dengan Sistem yang Adil
Manajemen kinerja yang manusiawi bukan berarti perusahaan harus menurunkan standar atau membiarkan karyawan bekerja tanpa target.
Justru sebaliknya.
Perusahaan tetap membutuhkan standar kinerja yang jelas. Tetapi standar tersebut harus disertai dengan objektivitas, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.
Penilaian tidak boleh berdasarkan suka atau tidak suka terhadap seseorang. Modul Talent Management menegaskan bahwa penilaian kinerja harus berdasarkan data, fakta, dan indikator yang terukur, bukan persepsi pribadi atau hubungan personal.
Karyawan juga berhak mengetahui bagaimana nilai kinerjanya diperoleh dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
Menurut saya, keadilan dalam sistem kinerja bukan sekadar persoalan HR, tetapi juga persoalan kepercayaan.
Ketika karyawan percaya bahwa sistem penilaian perusahaan adil, mereka akan lebih mudah menerima feedback dan hasil evaluasi.
Sebaliknya, ketika penilaian dianggap berdasarkan kedekatan dengan atasan, sistem kinerja justru dapat menurunkan motivasi.
Lalu, Seperti Apa Manajemen Kinerja Talenta yang Ideal?
Menurut saya, perusahaan dapat membangun sistem sederhana dengan lima langkah:
Pertama, tetapkan target yang jelas.
Karyawan harus mengetahui apa yang harus dicapai dan bagaimana keberhasilannya diukur.
Kedua, pantau prosesnya secara rutin.
Jangan menunggu evaluasi akhir tahun untuk mengetahui bahwa karyawan mengalami masalah.
Ketiga, berikan feedback secara berkala.
Feedback harus menjadi komunikasi dua arah antara atasan dan karyawan.
Keempat, hubungkan hasil kinerja dengan pengembangan.
Jika ditemukan kekurangan kompetensi, perusahaan harus memberikan pelatihan, coaching, atau kesempatan belajar.
Kelima, berikan penghargaan dan peluang karier secara adil.
Karyawan dengan kinerja dan kompetensi yang baik perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Kelima langkah tersebut sebenarnya sejalan dengan siklus manajemen kinerja yang terdiri dari perencanaan, pemantauan, evaluasi, pengembangan, serta penghargaan dan konsekuensi.
Penutup: Jangan Hanya Mengukur Karyawan, Tetapi Kembangkan Mereka
Pada akhirnya, perusahaan memang membutuhkan target.
Perusahaan juga membutuhkan KPI, evaluasi, dan standar kerja.
Namun, semua itu seharusnya menjadi alat untuk mengembangkan manusia, bukan sekadar alat untuk mencari kesalahan.
Menurut saya, perusahaan yang hanya bertanya “Berapa pencapaianmu?” akan mendapatkan angka.
Tetapi perusahaan yang bertanya “Apa yang bisa kami lakukan agar kamu berkembang?” berpeluang mendapatkan talenta yang lebih loyal, kompeten, dan siap menghadapi masa depan.
Manajemen kinerja yang baik bukan tentang membuat karyawan bekerja semakin keras.
Manajemen kinerja yang baik adalah tentang membantu karyawan bekerja lebih baik, berkembang lebih jauh, dan memahami kontribusinya terhadap tujuan organisasi.
Karena pada akhirnya, perusahaan tidak tumbuh hanya karena target yang tinggi.
Perusahaan tumbuh karena ada manusia yang mampu mencapai target tersebut, terus belajar, dan mau berkembang bersama organisasi.
Maka, sudah saatnya kita berhenti melihat karyawan sebagai “mesin target”.
Mari melihat mereka sebagai talenta yang memiliki potensi untuk terus tumbuh.
Referensi
Aguinis, H. (2013). Performance Management (3rd ed.). Pearson Education.
Armstrong, M. (2014). Armstrong’s Handbook of Human Resource Management Practice. Kogan Page.
Dessler, G. (2015). Human Resource Management. Pearson.
Pulakos, E. D. (2009). Performance Management: A New Approach for Driving Business Results. Wiley.
Wibowo. (2010). Manajemen Kinerja. PT Raja Grafindo Persada.
Modul Talent Management – Bab VII: Manajemen Kinerja.
Oleh:
- ADITYA DWI SAPUTRA: 231010501054
- CUT NYAK LIA MUTIA: 231010502140
- FEBRI JEPNIKA: 231010501182
- LAYURIMA SYAWAL MUALAFI: 231010501222
- ZULFI BAGUS KRISDIANTO: 231010503910
Dosen Pengampu: DEWI LESTARI S,SOS, M,M











