Oleh: Annisa Rizky Wanara – Mahasiswi Magister Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan
Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk di bidang pendidikan. Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), dan berbagai bentuk budaya digital membuat masyarakat dituntut untuk terus belajar dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan teknologi, muncul pula tantangan yang tidak sedikit, seperti krisis moral, penyebaran hoaks, meningkatnya sikap intoleran, hingga semakin berkurangnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, jauh sebelum era digital berkembang seperti sekarang, K.H. Ahmad Dahlan telah memperkenalkan gagasan pembaruan pendidikan Islam yang bersifat visioner dan masih relevan hingga saat ini. Melalui Muhammadiyah, beliau mengembangkan konsep pendidikan Islam yang tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga memadukan ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian, umat Islam diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman sebagai landasan kehidupan.
Lahirnya Pembaruan Pendidikan Islam
Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia menghadapi berbagai keterbatasan dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan. Sistem pendidikan saat itu bersifat dualistis. Di satu sisi terdapat sekolah-sekolah Barat yang menawarkan pendidikan modern, tetapi cenderung mengesampingkan nilai-nilai agama. Di sisi lain, terdapat pendidikan pesantren yang lebih menitikberatkan pada pembelajaran ilmu agama. Kondisi tersebut mendorong K.H. Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaruan dalam sistem pendidikan Islam.
Beliau meyakini bahwa pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang kehidupan dunia, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, akhlak, dan spiritualitas peserta didik. Berdasarkan pemikiran tersebut, lahirlah gagasan untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sistem pendidikan yang modern. Gagasan ini diwujudkan melalui pendirian Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) pada tahun 1911. Kehadiran sekolah tersebut menjadi salah satu langkah awal lahirnya gerakan pembaruan Islam melalui Muhammadiyah yang kemudian berkembang pesat di berbagai wilayah Indonesia.
Islam Berkemajuan dan Tantangan Zaman Sekarang
Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah mengajarkan bahwa Islam merupakan agama yang mendorong kemajuan, pencerahan, dan perubahan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat. Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran yang mengatur ibadah, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang modern, adil, toleran, dan berkeadaban.
Nilai-nilai tersebut justru semakin penting untuk diterapkan pada masa sekarang. Di era media sosial, masyarakat sering dihadapkan pada berbagai persoalan seperti cyberbullying, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi palsu atau hoaks yang dapat memicu perpecahan. Dalam kondisi seperti ini, konsep wasathiyah atau sikap moderat yang diajarkan Muhammadiyah menjadi pedoman yang relevan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, saling menghargai, dan toleran.
Selain itu, perkembangan teknologi juga menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Semangat ijtihad dan tajdid yang diajarkan Muhammadiyah dapat menjadi motivasi agar umat Islam terus berkembang dan tidak tertinggal dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, maupun pendidikan. Salah satu contoh nyata adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, serta mendorong kreativitas peserta didik. Namun, pemanfaatannya tetap harus dilakukan secara bijaksana agar tidak menimbulkan ketergantungan maupun mengurangi nilai-nilai etika dalam proses belajar.
Pendidikan Modern yang Tetap Berkarakter
Salah satu alasan mengapa pemikiran K.H. Ahmad Dahlan masih relevan hingga saat ini adalah pandangannya tentang pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak. Saat ini, banyak orang memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi masih menghadapi persoalan seperti rendahnya kepedulian sosial, empati, dan moralitas. Oleh karena itu, pendidikan modern tidak cukup hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual. Pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang berkarakter, memiliki rasa tanggung jawab sosial, serta mampu menghargai keberagaman.
Nilai-nilai tersebut sejak awal telah menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyah. Hingga saat ini, Muhammadiyah terus memberikan kontribusi nyata melalui ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan pembaruan yang dirintis lebih dari satu abad yang lalu tetap mampu berkembang dan menjawab kebutuhan masyarakat di setiap perubahan zaman.
Penutup
Gagasan pembaruan pendidikan Islam yang dikembangkan oleh K.H. Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa Islam dan modernitas bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Melalui konsep Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menghadirkan pemahaman Islam yang moderat, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.
Di era digital saat ini, pemikiran tersebut menjadi semakin penting sebagai landasan dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, sikap toleran, serta tanggung jawab sosial. Dengan demikian, semangat pembaruan yang diwariskan oleh K.H. Ahmad Dahlan tetap dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern yang terus berkembang.











