Scroll untuk baca artikel
Opini

Penguatan Pendidikan Karakter dalam Menghadapi Tantangan Moral Anak di Era Digital

×

Penguatan Pendidikan Karakter dalam Menghadapi Tantangan Moral Anak di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Esai Kritis

Disusun untuk Memenuhi Tugas Proyek Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran

Disusun Oleh:

Nama                : Muhammad Luthfi

NIM                  : 250141051

Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

2026

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi. Internet, media sosial, permainan daring, hingga kecerdasan buatan (AI) memudahkan akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam pembentukan karakter anak. Anak sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan lebih rentan terhadap paparan informasi yang tidak sesuai usia, perundungan siber (cyberbullying), serta penurunan etika berkomunikasi (N. Arifin, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi perlu diiringi dengan penguatan pendidikan karakter agar perkembangan moral anak tetap terjaga.

Perubahan tersebut menuntut dunia pendidikan untuk tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab. Di era digital, pendidikan karakter perlu membekali anak agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab (Sagala et al., 2024). Berdasarkan hal tersebut, esai ini membahas tantangan moral anak di era digital, urgensi penguatan pendidikan karakter, serta rekomendasi penerapannya di sekolah dasar.

Analisis Kritis

Banyak orang menganggap era digital sebagai penyebab menurunnya moral anak. Namun, anggapan tersebut perlu dikaji lebih lanjut karena teknologi bersifat netral, sedangkan dampaknya bergantung pada cara penggunaannya. Menurunnya karakter anak juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pola asuh keluarga, budaya sekolah, lingkungan pergaulan, dan pendampingan orang dewasa (Fitri Nur’aeni & Lubis, 2022).

Meski demikian, perkembangan teknologi tetap menghadirkan tantangan dalam pembentukan karakter anak. Kemudahan mengakses informasi membuat anak lebih rentan terpapar konten yang tidak sesuai usia dan meniru perilaku di media digital tanpa memahami nilai moral di baliknya. Karena itu, pendidikan karakter perlu membekali anak agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain, baik di dunia nyata maupun di ruang digital (Ayu, 2023).

Tantangan tersebut semakin besar pada jenjang sekolah dasar karena anak masih berada pada tahap perkembangan karakter dan belum mampu sepenuhnya membedakan tindakan yang benar dan salah berdasarkan pertimbangan moral yang matang. Oleh karena itu, keteladanan guru dan orang tua, pembiasaan perilaku positif, serta lingkungan yang mendukung menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter anak (Shodiq & Kuswanto, 2024).

Namun, pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah masih menghadapi berbagai kendala. Pendidikan karakter dalam praktiknya masih sering bersifat seremonial, seperti slogan atau tata tertib, dan belum terintegrasi secara konsisten dalam pembelajaran. Di sisi lain, orientasi pada pencapaian akademik juga membuat pembentukan karakter belum berjalan optimal, sehingga peserta didik cenderung memahami nilai karakter sebagai materi, bukan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari (Astuti et al., 2025).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa tantangan moral anak di era digital tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh belum optimalnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membimbing anak. Permasalahan utama bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara pemanfaatannya. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan nilai-nilai moral dan literasi digital agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak serta menjadi warga digital (digital citizen) yang bertanggung jawab. (Purba et al., 2024).

Argumentasi

Penguatan pendidikan karakter semakin penting di era digital karena anak belajar tidak hanya dari guru dan keluarga, tetapi juga dari berbagai informasi di dunia digital (Devonasista et al., 2025). Pendidikan karakter bukan bertujuan membatasi penggunaan teknologi, melainkan membekali anak agar mampu memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab. Dengan demikian, tantangan utamanya bukan terletak pada teknologi, tetapi pada kesiapan sekolah, guru, dan orang tua dalam membimbing anak.

Sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak karena pada usia ini anak masih belajar melalui keteladanan. Oleh karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi teladan dalam menunjukkan sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, empati, dan toleransi. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan secara konsisten dalam pembelajaran, anak akan lebih mudah membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik karena anak usia sekolah dasar lebih mudah belajar melalui keteladanan dan pembiasaan. Oleh sebab itu, pendidikan karakter perlu diintegrasikan ke dalam setiap proses pembelajaran, bukan hanya disampaikan sebagai aturan atau materi pelajaran. Ketika nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati diterapkan secara konsisten dalam berbagai aktivitas belajar, peserta didik akan lebih mudah menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Maqbulah et al., 2025).

Implementasi Profil Lulusan 8 Dimensi menjadi salah satu upaya memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Melalui pembelajaran yang mengintegrasikan delapan dimensi profil lulusan, anak tidak hanya memahami nilai-nilai karakter, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena anak belajar melalui pengalaman dan pembiasaan, bukan sekadar ceramah atau hafalan.

Keberhasilan pendidikan karakter juga bergantung pada dukungan keluarga dan masyarakat. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan lebih mudah diterapkan jika diperkuat melalui keteladanan dan pembiasaan di rumah maupun lingkungan sekitar. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci dalam membentuk karakter anak (Shodiq & Kuswanto, 2024).

Di era digital, pendidikan karakter juga perlu diimbangi dengan penguatan kewargaan digital (digital citizenship). Anak perlu dibimbing agar mampu menggunakan media digital secara bijak, menghargai privasi orang lain, memilah informasi sebelum membagikannya, serta bertanggung jawab terhadap jejak digital yang mereka tinggalkan (Rustiyana et al., 2025). Dengan demikian, mereka tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara etis dan bertanggung jawab.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa tantangan moral di era digital bukan menjadi alasan untuk membatasi penggunaan teknologi. Sebaliknya, kondisi ini menjadi kesempatan bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan karakter yang kuat, anak tidak hanya mampu meraih prestasi akademik, tetapi juga memiliki integritas, empati, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.

Rekomendasi

Penguatan pendidikan karakter di era digital memerlukan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan sebagai teori, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

Di sekolah, guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam setiap proses pembelajaran. Model seperti Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), dan diskusi reflektif dapat dimanfaatkan agar anak belajar melalui pengalaman. Selain itu, guru juga perlu meningkatkan kompetensinya, baik dalam penggunaan teknologi maupun strategi pembelajaran yang mampu mendukung perkembangan karakter anak (Komala, 2025).

Pendidikan karakter juga perlu diimbangi dengan penguatan literasi digital dan implementasi Profil Lulusan 8 Dimensi. Peserta didik tidak hanya dibimbing menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika berkomunikasi, menjaga privasi, memilah informasi, serta bertanggung jawab terhadap jejak digital yang mereka tinggalkan. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (B. Arifin et al., 2024).

Di samping itu, dukungan keluarga dan masyarakat tetap diperlukan agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat diterapkan secara konsisten. Kolaborasi yang baik antara sekolah, orang tua, dan masyarakat akan membantu membentuk anak yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Penutup

Era digital memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan, tetapi juga membawa tantangan dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter tetap menjadi bagian penting dalam membentuk anak yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Tantangan moral yang dihadapi anak saat ini tidak hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh peran keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan pendampingan yang diberikan kepada anak. Artinya, solusi yang diperlukan bukan membatasi penggunaan teknologi, melainkan memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran yang bermakna serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Dengan demikian, penguatan pendidikan karakter perlu terus dioptimalkan sejak jenjang sekolah dasar karena pada tahap inilah nilai, sikap, dan kebiasaan anak mulai terbentuk. Melalui pembelajaran yang terintegrasi dan penguatan literasi digital, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, peduli, berpikir kritis, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab (Rofiqi, 2023).

Referensi

Arifin, B., Salim, A. N., Muzakki, A., Suwarsito, & Arifudin, O. (2024). Integrasi Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Berbasis Literasi Digital Pada Peserta Didik Sekolah Dasar. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4, 13547–13555.

Arifin, N. (2025). Pendidikan Karakter di Era Digital. Tahta Media Group.

Astuti, N. D., Marzuki, Hajaroh, M., Prihatni, Y., Kusumawardhani, R., Hartono, A., Setiawan, A., & Aziz, M. K. N. A. (2025). Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Sekolah Era Digital di Indonesia. Jurnal Pendidikan Karakter, 16, 28–38.

Ayu, N. G. S. N. (2023). Mengintegrasikan Media Sosial Dalam Pendidikan Etika Anak Usia Dini. Incrementapedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 05, 21–28.

Devonasista, M. M., Romadhon, & Iswahyudi, D. (2025). Penguatan Pendidikan Karakter dalam Mengatasi Degradasi Moral Peserta Didik di Era Digital. 8, 8554–8562.

Fitri Nur’aeni, & Lubis, M. (2022). Pola Asuh Orang Tua dan Pembentukan Karakter Anak Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha, 10, 137–143.

Komala, R. (2025). Membangun Karakter Dan Logika Anak Memalui Pembelajaran Sains Di Sekolah Dasar. Intelektual:Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa Dan Akademisi, 1, 1–7.

Maqbulah, A., Sari, Y. N., Budiana, I., Raden Roro Vemmi Kesuma Dewi, R. S. S., Yosepin, P., & Hasanah, T. (2025). Pendidikan Karakter. Azzia Karya Bersama.

Purba, H. M., Zainuri, H. S., Daffa, M. F., Nurhafizah4, & Azhari, Y. (2024). Pendidikan Karakter di Era Digital : Tantangan dan Strategi. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(3).

Rofiqi, A. (2023). Penguatan pendidikan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menuju era society 5 . 0. Jurnal Pendidikan Karakter, 14, 166–176.

Rustiyana, Anggraini, F. D., Judijanto, L., Pakpahan, A. K., Haryono, P., Sulaiman, & Kusumastuti, S. Y. (2025). Literasi Digital: Membangun Wawasan Cerdas dalam Era Digital Terkini. Penerbit Buku Sonpedia.

Sagala, K. P., Naibaho, L., & Rantung, D. A. (2024). Tantangan Pendidikan karakter di era digital. Jurnal Kridatama Sains Dan Teknologi, 06(1), 1–8.

Shodiq, M., & Kuswanto. (2024). Strategi Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pendidikan Berbasis Keteladanan Dan Pembiasaan. Arsy Jurnal Studi Islam, 8(2), 192–202.