Scroll untuk baca artikel
Daerah

Lentera Batik: Dari Keterbatasan Menjadi Cahaya Literasi di Lereng Menoreh

×

Lentera Batik: Dari Keterbatasan Menjadi Cahaya Literasi di Lereng Menoreh

Sebarkan artikel ini
hgaseee
Di tengah sunyi perbukitan, selembar kain batik menjelma menjadi ruang cerita bagi anak-anak. Sumber: Dokumentasi Penulis

Oleh: Nonik Wus Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Editor: Alzam Amani

Edukasi Update, Yogyakarta – Pagi di Samigaluh selalu datang bersama kabut tipis yang menggantung di antara perbukitan Menoreh. Udara dingin menyapa pelan, seolah mengingatkan bahwa kehidupan di wilayah ini berjalan dengan ritme yang berbeda. Indah, tetapi penuh tantangan—terutama bagi dunia pendidikan.

Di SD Negeri 1 Balong, tempat saya mengajar, keterbatasan bukanlah sesuatu yang asing. Akses menuju sekolah yang tidak selalu mudah, fasilitas yang belum sepenuhnya memadai, hingga jumlah murid yang sedikit menjadi bagian dari keseharian. Namun, justru di ruang kecil dengan hanya enam murid di kelas IV itulah, saya menemukan kegelisahan sekaligus harapan.

Kegelisahan itu memuncak ketika melihat hasil Rapor Pendidikan tahun 2024. Kemampuan literasi murid berada pada kategori rendah, bahkan mengalami penurunan. Bagi saya, angka-angka itu bukan sekadar data—melainkan cermin dari suara anak-anak yang belum sepenuhnya menemukan cara untuk bercerita.

Dari titik itulah, sebuah gagasan lahir: Lentera Batik—akronim dari Literasi, Ekspresi, Tradisi, dan Karya Batik.

Ketika Literasi Bertemu Kearifan Lokal

Saya meyakini bahwa literasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk buku teks. Literasi bisa hidup di mana saja, selama ada ruang untuk berpikir, merasakan, dan mengekspresikan.

Batik, sebagai warisan budaya, saya pilih bukan tanpa alasan. Ia bukan sekadar kain, melainkan bahasa simbolik yang menyimpan cerita. Melalui pendekatan “Setiap Motif Punya Cerita”, saya mengajak murid memahami bahwa menulis bukan sekadar tugas, tetapi cara untuk menghidupkan makna dari apa yang mereka ciptakan.

Pembelajaran pun menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka. Anak-anak mulai mengaitkan motif dengan pengalaman sehari-hari—tentang hujan di kebun, angin di perbukitan, atau kebahagiaan sederhana di rumah.

Merawat Ide di Tengah Keterbatasan

Tentu, menjalankan program ini bukan tanpa hambatan. Kami tidak memiliki peralatan membatik yang lengkap, apalagi ruang praktik khusus. Di sisi lain, kemampuan awal menulis murid masih sangat terbatas.

Namun, keterbatasan justru membuka pintu kolaborasi.

Saya menggandeng guru seni dari SMP Negeri 3 Samigaluh untuk berbagi pengetahuan dasar membatik. Dukungan dari kepala sekolah juga menjadi energi penting dalam memastikan program ini tetap berjalan. Bahkan, beberapa kebutuhan harus saya penuhi secara mandiri, sebagai bentuk komitmen terhadap proses belajar murid.

Di titik ini, saya belajar bahwa perubahan tidak selalu menunggu kondisi ideal—ia justru tumbuh dari keberanian untuk memulai.

Batik Ciprat dan Keberanian Bercerita

Untuk anak usia sekolah dasar, saya memilih teknik batik ciprat. Sederhana, aman, dan memberi ruang eksplorasi yang luas.

Namun, inti dari program ini bukan pada tekniknya, melainkan pada proses literasinya.

Sebelum mulai menciprat warna, setiap murid diminta memikirkan konsep motifnya. Mereka memberi nama, lalu menuliskan cerita di balik karya tersebut. Aktivitas ini perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap menulis.

Menulis tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan untuk mengungkapkan makna dari apa yang mereka ciptakan.

Dan di sanalah, literasi mulai tumbuh—secara alami.

Dari Karya Menjadi Kebanggaan

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika karya batik murid tidak berhenti sebagai pajangan, tetapi diolah menjadi seragam sekolah.

Ada kebanggaan yang sulit digambarkan ketika seorang anak mengenakan pakaian dari hasil karyanya sendiri. Mereka merasa dihargai, diakui, dan memiliki sesuatu yang nyata dari proses belajar.

Program ini juga menghadirkan ruang apresiasi melalui kegiatan gelar karya. Orang tua datang, melihat, dan mendengar langsung cerita dari anak-anak mereka. Sekolah yang sebelumnya sunyi, perlahan menjadi ruang yang hidup dengan interaksi dan kebanggaan.

Menyalakan Cahaya dari Tempat Sederhana

Perubahan yang terjadi mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya nyata. Kemampuan menulis murid meningkat, kepercayaan diri mereka tumbuh, dan budaya literasi mulai terbentuk di sekolah.

Bagi saya, Lentera Batik bukan sekadar program pembelajaran. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan fasilitas besar untuk menghasilkan perubahan berarti.

Kadang, cukup dengan satu ide, satu langkah kecil, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak untuk didengar.

Dari lereng Menoreh yang sunyi, cahaya itu kini perlahan menyala—menerangi jalan anak-anak untuk mengenal dunia melalui kata dan karya.

Profil Penulis

Nonik Wus Rahayu, S.Pd., M.Pd. adalah guru di SD Negeri 1 Balong, Samigaluh, Kulon Progo. Aktif mengembangkan pembelajaran berbasis literasi dan kearifan lokal sebagai upaya menghadirkan pendidikan yang bermakna di daerah perbukitan.