Edukasi Update, Pendidikan – Setiap hari, jutaan jempol Generasi Z (Gen Z) lincah berselancar di layar gawai mereka. Mereka menyelami algoritma TikTok, bertukar pesan di Instagram, hingga memantau topik hangat di X (Twitter). Namun di balik kecanggihan jemari mereka, sebuah alarm bahaya sedang berbunyi nyaring: krisis defisit moralitas yang akut diam-diam sedang mengintai generasi muda kita.
Banyak pihak mulai menyadari bahwa pola pendidikan karakter konvensional yang selama ini diajarkan secara kaku di sekolah dasar hingga menengah dinilai mulai usang, kering, dan gagap dalam membentengi etika remaja ketika mereka memasuki keliaran ruang siber. Dampaknya fenomena dilapangan menunjukkan bahwa banyak anak anak jaman sekarang yang kurang memiliki budi pekerti yang baik, berani mengolok teman bahkan gurunya, kurang sopan santun terhadap yang lebih tua, berani melawna bahkan berkata kasar, melakukan kenakalan
Melihat fenomena sosial yang kian mencemaskan ini, seorang peneliti sekaligus mahasiswa Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Fitri Aisyah Jasmine, menawarkan sebuah terobosan baru. Melalui kajian ilmiahnya, Fitri merumuskan sebuah peta jalan (roadmap) pembaruan moral berbasis “Akhlak Filosofis” dalam bingkai perspektif Islam Berkemajuan. Pendekatan segar ini digadang-gadang mampu menjadi jawaban paling jitu untuk memulihkan adab digital anak muda zaman sekarang yang kian rapuh
Dilema Generasi Digital: Cerdas Teknologi, Miskin Empati
Dalam analisis literatur mendalam yang ia lakukan, Fitri membongkar akar masalah mengapa ruang digital kita hari ini sering kali terasa begitu “beracun”. Ia menemukan adanya ketimpangan luar biasa dalam sistem pendidikan modern. Lembaga pendidikan saat ini ditengarai terlalu terjebak dalam arus teknosentris. Artinya, kurikulum sekolah terlalu memuja keahlian kognitif, nilai akademik di atas kertas, dan penguasaan perangkat teknologi canggih semata. Namun ironisnya, institusi pendidikan justru sering kali abai dan lupa merawat dimensi spiritual serta kesadaran moral terdalam dari para peserta didik.
“Kita harus jujur melihat bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami lompatan teknologi yang luar biasa cepat. Sayangnya, kecepatan ini tidak dibarengi dengan kesiapan emosional maupun kematangan spiritual,” ungkap Fitri dengan lugas saat memaparkan esensi risetnya.
Menurut Fitri, ketidakseimbangan inilah yang membuat media sosial mudah bergeser fungsi. Alih-alih menjadi ruang belajar, dunia maya justru bertransformasi menjadi panggung subur bagi penyebaran berita bohong (hoaks), aksi perundungan siber (cyberbullying), hingga budaya pamer dan narsisme ekstrem yang perlahan mematikan rasa empati kepada sesama manusia. Dampak dari pembiaran ini tidak main-main. Ketika nilai-nilai spiritual dikesampingkan, Gen Z menjadi sangat rentan terombang-ambing oleh konten digital bebas nilai. Lanskap perilaku mereka pun berubah drastis menjadi lebih individualistis, konsumtif karena tergoda tren viral, serta mengalami penurunan nilai religiusitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari
Mengapa Harus Akhlak Filosofis?
Lantas, bagaimana kita menyelamatkan moralitas mereka? Fitri dengan tegas menyatakan bahwa model indoktrinasi nilai gaya lama sudah tidak lagi mempan untuk menghadapi rumitnya godaan dunia maya. Menggurui Gen Z dengan sekadar kata “jangan” atau menakut-nakuti tanpa alasan logis tidak akan pernah berhasil. Karakter Gen Z yang kritis dan melek informasi membutuhkan pendekatan yang menantang mereka untuk ikut berpikir dan merenung, bukan sekadar patuh secara buta karena takut pada sanksi atau tekanan dari luar.
Di sinilah Akhlak Filosofis hadir membawa solusi jangka panjang. Berbeda dengan hafalan teori moral biasa, pendekatan ini menjembatani secara harmonis antara ketajaman akal sehat (‘aql) dengan bimbingan wahyu agama (naql). Melalui metode filosofis ini, anak muda tidak lagi diajak berbuat baik karena terpaksa atau demi formalitas belaka.
Sebaliknya, mereka dituntun untuk menemukan kesadaran logis di dalam pikiran mereka sendiri, bahwa berperilaku jujur, sopan, dan menjaga jempol di internet adalah sebuah kebenaran rasional yang mendatangkan maslahat bagi diri mereka dan orang lain. Dengan formula ini, penanaman moral tidak lagi berjalan satu arah (top-down) dari guru ke murid, melainkan tumbuh subur sebagai kesadaran internal dari dalam jiwa yang sangat adaptif menghadapi perkembangan zaman.
NetizMU: Manifestasi Etika Digital Islami
Sebagai bentuk implementasi nyata dari konsep Akhlak Filosofis ini, gerakan Islam Berkemajuan seperti Muhammadiyah sebenarnya telah merancang panduan praktis yang disebut NetizMU (Netizen Muhammadiyah), yang berakar dari Fikih Informasi.
Pedoman NetizMU mengintegrasikan prinsip dasar syariat, khususnya menjaga eksistensi agama (hifz al-din) dan kemaslahatan publik (maslahat ammah), ke dalam aktivitas digital. Di lembaga pendidikan, implementasi ini diwujudkan lewat pembiasaan media sosial sebagai ruang dakwah amar makruf nahi munkar yang bersih dari ujaran kebencian.
Melalui kolaborasi strategis antara literasi digital yang kritis, keteladanan guru, dan penanaman Akhlak Filosofis, masa depan moralitas Gen Z diharapkan dapat terselamatkan dari dampak destruktif arus informasi global.
Penulis: Fitri Aisyah Jasmine (2508044071) – Mahasiswi Magister Psikologi











