Disusun oleh: Titin Puji Lestari, Mahasiswa Universitas Pamulang.
Edukasi Update, Opini – Di era modern saat ini, ada satu syarat tidak tertulis yang hampir selalu mengekor di setiap lowongan pekerjaan maupun panggung profesional: harus memiliki kemampuan public speaking yang baik. Di permukaan, tuntutan ini tampak sangat wajar. Perusahaan dan institusi tentu menginginkan individu yang komunikatif, percaya diri, serta fasih mempresentasikan gagasan.
Namun, jika ditarik lebih dalam, standar public speaking yang kaku ini perlahan telah bermutasi menjadi bentuk diskriminasi kelas yang terselubung. Kita kerap lupa bahwa kemampuan berbicara di depan umum secara karismatik bukanlah keterampilan yang jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah produk dari privilege sosial dan ekonomi: tumbuh di lingkungan yang memfasilitasi kebebasan berpendapat, mengenyam pendidikan berkualitas yang melatih retorika sejak dini, atau memiliki modal finansial untuk mengikuti pelatihan mahal.
Akibatnya, standar ini kerap menyingkirkan individu-individu yang cemerlang secara substansi dan rajin dalam bekerja, namun terhambat oleh kecemasan sosial, latar belakang pendidikan yang terbatas, atau hambatan kultural. Kita terlalu cepat mencap seseorang sebagai “tidak kompeten” hanya karena suara mereka terbata-bata atau tangan mereka gemetar saat memegang mikrofon, tanpa pernah mau menggali isi kepala dan rekam jejak kerja nyata mereka.
Ironisnya, dunia profesional kita kini sering kali lebih menghargai mereka yang pandai “menjual retorika” di atas panggung, ketimbang mereka yang konsisten bekerja keras di balik layar menyelesaikan persoalan substansial. Karisma instan dan pencitraan visual mengalahkan integritas serta produktivitas senyap.
Sudah saatnya institusi pendidikan dan dunia kerja mendekonstruksi mitos public speaking yang elitis ini. Penilaian kompetensi tidak boleh lagi disetir oleh standar panggung semata. Sudah saatnya kita merangkul bentuk komunikasi yang lebih inklusif di mana kemampuan mendengarkan, menuangkan gagasan dalam tulisan yang bernas, dan ketekunan bekerja dihargai setara dengan kepiawaian berpidato.
Sebab, kemajuan sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa fasih warganya berorasi di bawah sorotan lampu sorot. Bangsa yang besar dibangun oleh manusia-manusia tulus yang bekerja di ruang-ruang sunyi, jauh dari hingar-bingar tepuk tangan dan kilatan kamera.











