Scroll untuk baca artikel
Opini

Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia

×

Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia

Sebarkan artikel ini
Picture1
Ilustrasi AI

Penulis : Yohana Kalli Ghoba, PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN ( PPKN ), Universitas Pamulang.

Edukasi Update, Opini – Perkembangan teknologi pada zaman sekarang membuat media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya berbagai bentuk bahasa baru. Saat ini, kita sering menemukan penggunaan bahasa gaul, singkatan, serta campuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari.

Menurut saya, media sosial memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Pengaruh tersebut dapat membawa dampak positif maupun negatif, tergantung pada cara masyarakat menggunakannya. Oleh karena itu, kita perlu memahami bagaimana media sosial memengaruhi bahasa Indonesia agar perkembangan teknologi tidak membuat kita melupakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut Sofyaningrum, Azizah, Rofiqoh, dan Hidayah (2024), perkembangan teknologi dan interaksi di media sosial memengaruhi perubahan bahasa, terutama melalui penggunaan bahasa gaul. Penelitian mereka menjelaskan bahwa bahasa gaul yang berkembang di TikTok dapat memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial mempunyai peran dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut pendapat saya, salah satu dampak positif media sosial adalah memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi dan menambah kosakata baru. Contohnya, munculnya istilah-istilah populer yang digunakan untuk menyampaikan perasaan, pendapat, atau tanggapan secara singkat. Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sarana untuk mempelajari bahasa Indonesia melalui konten edukasi, video pembelajaran, dan informasi mengenai penggunaan kata serta ejaan yang benar. Dengan demikian, media sosial dapat membantu meningkatkan kreativitas dan pengetahuan berbahasa apabila digunakan secara tepat.

Namun, media sosial juga dapat memberikan dampak negatif apabila bahasa gaul digunakan secara berlebihan tanpa memperhatikan situasi. Contohnya, kata “gak”, “bgt”, “ygy”, atau “kepo” sering digunakan dalam percakapan informal. Penggunaan bahasa seperti ini tidak selalu salah dalam komunikasi santai, tetapi kita perlu memahami bahwa tugas kuliah, makalah, surat resmi, dan kegiatan akademik membutuhkan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku. Jika seseorang terbiasa menggunakan singkatan dan bahasa tidak baku dalam semua situasi, ia dapat mengalami kesulitan ketika harus menulis secara formal.

Penelitian Rozak dan rekan-rekannya (2023) tentang media sosial sebagai sumber referensi bahasa gaul bagi mahasiswa menunjukkan bahwa istilah yang populer di media sosial dapat memengaruhi penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, hal tersebut sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Kita sering meniru kata atau ungkapan yang sedang populer karena ingin mengikuti perkembangan zaman dan merasa lebih dekat dengan teman sebaya. Akan tetapi, mahasiswa juga perlu mampu membedakan bahasa untuk percakapan sehari-hari dengan bahasa untuk kepentingan akademik.

Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sarana untuk mempertahankan dan memperkenalkan bahasa Indonesia. Misalnya, mahasiswa dapat membuat video edukasi tentang penggunaan kata baku, membagikan informasi mengenai kesalahan ejaan, atau menulis konten yang menarik menggunakan bahasa Indonesia. Dengan cara tersebut, media sosial tidak hanya menjadi tempat penyebaran bahasa gaul, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bahasa nasional.

Menurut saya, perkembangan bahasa merupakan sesuatu yang wajar karena bahasa selalu mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat. Kita tidak perlu menolak semua bentuk bahasa gaul, sebab bahasa tersebut dapat menjadi bagian dari kreativitas dalam berkomunikasi. Hal yang paling penting adalah menggunakan bahasa sesuai dengan konteksnya. Bahasa gaul dapat digunakan ketika berbicara dengan teman dalam situasi santai, sedangkan bahasa Indonesia baku sebaiknya digunakan dalam kegiatan akademik dan situasi resmi.

Berdasarkan uraian tersebut, saya berpendapat bahwa media sosial memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Dampak positifnya adalah memperluas kosakata, meningkatkan kreativitas, mempermudah komunikasi, dan membuka kesempatan untuk belajar bahasa. Sementara itu, dampak negatifnya dapat berupa kebiasaan menggunakan singkatan secara berlebihan, pencampuran bahasa yang tidak sesuai konteks, serta berkurangnya ketelitian dalam menggunakan bahasa baku. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus bijak menggunakan media sosial dan tetap menjaga kemampuan berbahasa Indonesia. Kita boleh mengikuti perkembangan bahasa gaul, tetapi jangan sampai melupakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkaya bahasa Indonesia sekaligus menjaga kedudukannya sebagai bahasa persatuan.

Daftar Referensi

  1. Sofyaningrum, R., Azizah, R. N., Rofiqoh, R., & Hidayah, N. L. (2024). Transformasi Bahasa di Era Society 5.0: Bahasa Gaul dan Pemertahanan Bahasa. LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan.
  2. Rozak, R. W. A., Hafidza, S. P., Rahayu, A. P., Fariza, D. M., Fajrin, Z. A., & Ramadhani, K. R. (2023). Analisis Media Sosial sebagai Sumber Referensi Bahasa Gaul dalam Kehidupan Sehari-hari oleh Mahasiswa. Artikulasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
  3. Caniago, Z. S., Pasaribu, B., Pangaribuan, N. A., & Harahap, S. H. (2026). Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Sastra.