Oleh. Mustofa Faqih.*
Di tengah krisis iklim yang semakin mendesak dan keterbatasan sumber daya alam, konsep pembangunan ekonomi konvensional yang eksploitatif telah mencapai batasnya. Transisi menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis bagi kelangsungan hidup planet dan kemakmuran bangsa. Namun, pergeseran ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada pemerintah atau korporasi besar semata.
Esai ini berargumen bahwa green entrepreneurship adalah mesin baru yang vital untuk menggerakkan ekonomi hijau nasional, mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang bisnis inovatif, menciptakan lapangan kerja berkelanjutan, dan memposisikan suatu bangsa sebagai pemimpin dalam masa depan yang lebih lestari.
Green entrepreneurship merujuk pada aktivitas kewirausahaan yang secara eksplisit berfokus pada pengembangan produk, layanan, atau proses yang mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, memanfaatkan sumber daya secara efisien, atau memecahkan masalah lingkungan. Ini mencakup berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, eco-tourism, hingga teknologi hijau.
Para green entrepreneurs ini tidak hanya didorong oleh motif keuntungan, tetapi juga oleh passion yang kuat terhadap keberlanjutan dan keinginan untuk menciptakan dampak positif bagi bumi. Mereka adalah inovator yang melihat “limbah” sebagai sumber daya dan “polusi” sebagai peluang untuk efisiensi.
Peran pemerintah dalam memfasilitasi kebangkitan green entrepreneurship sangatlah esensial. Pemerintah harus bertindak sebagai enabler dan champion, menciptakan kerangka kebijakan yang kondusif, bukan sebagai hambatan. Ini mencakup penyediaan insentif fiskal seperti pembebasan pajak atau subsidi untuk green businesses, akses mudah ke permodalan hijau (green financing), serta regulasi yang jelas dan prediktif yang mendorong inovasi ramah lingkungan. Selain itu, pemerintah dapat menjadi konsumen awal (first adopter) produk dan layanan hijau, menciptakan pasar awal yang krusial bagi green startups.
Green entrepreneurship juga merupakan pendorong utama inovasi teknologi hijau dan ekonomi sirkular. Misalnya, startup mengembangkan teknologi baru untuk daur ulang limbah plastik menjadi bahan bakar, merancang sistem pertanian vertikal yang hemat air dan lahan, atau menciptakan solusi penyimpanan energi yang efisien.
Inisiatif-inisiatif ini tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang mendorong efisiensi sumber daya dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku primer. Ini adalah perwujudan nyata dari konsep “lebih sedikit limbah, lebih banyak nilai.”
Lebih dari sekadar menciptakan produk, green entrepreneurs juga berperan dalam membangun kesadaran dan mengubah perilaku konsumen. Melalui model bisnis mereka, mereka mendidik masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan dan menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai contoh, bisnis refillery yang mempromosikan penggunaan ulang kemasan, atau platform yang memfasilitasi pertukaran barang bekas, secara langsung mendorong perubahan gaya hidup menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Mereka adalah jembatan antara inovasi teknis dan adopsi sosial yang diperlukan untuk transisi hijau.
Namun, green entrepreneurs menghadapi tantangan unik. Selain tantangan umum kewirausahaan, mereka juga harus berhadapan dengan capital cost awal yang tinggi untuk teknologi hijau, kurangnya pemahaman pasar akan produk mereka, serta kebutuhan akan regulasi yang spesifik dan seringkali kompleks. Oleh karena itu, dukungan ekosistem yang terintegrasi, yang melibatkan institusi riset, investor dampak (impact investors), mentor, dan jaringan industri hijau, sangat esensial untuk membantu green startups mengatasi hambatan ini dan mencapai skala.
Secara nasional, investasi pada green entrepreneurship adalah investasi strategis dalam daya saing masa depan. Negara-negara yang mampu mengembangkan solusi hijau inovatif akan menjadi eksportir teknologi dan keahlian di pasar global yang semakin mengarah pada keberlanjutan. Ini adalah kesempatan untuk menciptakan keunggulan kompetitif baru, mengurangi ketergantungan pada industri ekstraktif, dan membangun ekonomi yang lebih resilien terhadap gejolak harga komoditas global.
Walhasil, mesin penggerak utama dalam mewujudkan ekonomi hijau nasional adalah green entrepreneurship. Ini bukan hanya tentang memitigasi risiko lingkungan, melainkan tentang membuka peluang ekonomi baru yang signifikan, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memposisikan suatu bangsa sebagai pemimpin dalam transisi menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang terarah, dan semangat inovasi yang kuat, green entrepreneurs akan menjadi arsitek utama kemakmuran bangsa di era keberlanjutan.
* Praktisi Entrepreneurship & Busines Consultant.