Scroll untuk baca artikel
Daerah

Ketika Akademisi Bertemu Legislator: Kisah di Balik Penyerahan “Pivot Playbook” ke Wakil Ketua DPRD Sulsel

×

Ketika Akademisi Bertemu Legislator: Kisah di Balik Penyerahan “Pivot Playbook” ke Wakil Ketua DPRD Sulsel

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026-11-06 at 19.10.39
Dokumentasi penyerahan buku Pivot Playbook karya Harry Yulianto, Ketua STIE YPUP Makassar, kepada Fauzi Andi Wawo, Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, sebagai bentuk pertukaran gagasan dan penguatan sinergi antara akademisi dan pemangku kebijakan.

Edukasi Update, Makassar, 6/11/2026 — Di sebuah ruang pertemuan di Makassar, dua dunia yang jarang bersinggungan bertemu. Harry Yulianto, akademisi dan Ketua STIE YPUP Makassar, menyerahkan buku karyanya, Pivot Playbook: Kerangka Strategis Mengubah Haluan Bisnis Startup Tanpa Kehilangan Tim dan Traksi, kepada Fauzi Andi Wawo, Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Jumat (6/11/2026). Momen itu bukan sekadar serah terima buku, melainkan sebuah titik temu antara gagasan yang lahir di ruang kelas dan kebutuhan kebijakan yang dirumuskan di gedung parlemen.

Buku ini berangkat dari temuan riset yang memprihatinkan. Harry dan tim peneliti STIE YPUP Makassar menemukan bahwa sekitar 60 persen startup di Koridor Mamminasata gagal bertahan melewati usia tiga tahun, dan hanya 15 persen startup di Kota Makassar yang mampu bertahan lebih dari tiga tahun. “Akar kegagalannya bukan semata-mata modal atau pasar, melainkan keputusan pivot yang sering diambil secara intuitif dan reaktif, tanpa kerangka analitis yang memadai,” ujar Harry. Dari keprihatinan itulah Pivot Playbook lahir, sebuah panduan yang menawarkan kerangka kerja agar founder dapat berbelok arah secara terukur, tanpa kehilangan tim dan traksi yang telah dibangun.

“Buku ini lahir dari kegelisahan saya melihat begitu banyak anak muda Makassar yang punya ide brilian, tapi kemudian menyerah di tengah jalan,” kata Harry. “Pivot bukanlah tanda kegagalan. Justru sebaliknya, pivot adalah bukti bahwa seorang founder memiliki keberanian untuk mendengarkan kenyataan dan meresponsnya dengan cerdas.”

Fauzi Andi Wawo menyambut baik penyerahan tersebut. Sebagai legislator yang juga aktif mendorong digitalisasi UMKM, beliau menilai gagasan dalam Pivot Playbook relevan dengan tantangan yang dihadapi daerah. Fauzi pernah menekankan pentingnya transformasi pendidikan ekonomi yang adaptif terhadap teknologi digital untuk mendukung penguatan UMKM. “Kemampuan beradaptasi bukan hanya milik mereka yang bergerak di dunia usaha, tetapi juga milik pembuat kebijakan. Kita harus berani meninjau ulang kebijakan yang tidak lagi menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Penyerahan buku ini menjadi simbol bahwa jarak antara kampus dan gedung dewan bukanlah jurang yang tidak terjembatani. Harry, yang sebelumnya pernah menyerahkan policy brief tentang literasi digital UMKM kepada Fraksi PKB DPRD Sulsel, kini membawa gagasan yang lebih luas tentang adaptasi strategis ke meja Wakil Ketua DPRD. Fauzi, dengan posisinya di pimpinan dewan, memiliki akses untuk menerjemahkan gagasan itu menjadi kebijakan yang lebih responsif terhadap perubahan zaman.

Tentunya, sebuah buku tidak akan mengubah kebijakan dalam sekejap. Tetapi ketika seorang akademisi menyerahkan karyanya kepada seorang legislator, yang terjadi bukanlah sekadar transfer dokumen. Namun, transfer pengetahuan, dari ruang kelas di kampus menuju ke ruang kebijakan. Pivot Playbook telah berpindah dari halaman buku ke tangan seorang wakil rakyat, dan dari sana, gagasan tentang keberanian untuk beradaptasi menemukan jalannya menuju kebijakan yang lebih adaptif bagi ekosistem usaha dan digital di Sulawesi Selatan.