Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Melalui Pendanaan MORA Aif Funds 2026, UIN Sunan Kalijaga gandeng UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Kolaborasi Kembangkan Model ULD Nasional

×

Melalui Pendanaan MORA Aif Funds 2026, UIN Sunan Kalijaga gandeng UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Kolaborasi Kembangkan Model ULD Nasional

Sebarkan artikel ini
adwwwww
Penandatanganan MoU riset pendidikan tinggi inklusif antara UIN Sunan Kalijaga dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Senin (11/5/2026).

Edukasi Update, Bengkulu — UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu memulai kolaborasi penelitian pengembangan pendidikan tinggi inklusif melalui program riset yang didanai oleh MORA Aif Funds Tahun 2026. Penelitian tersebut mengangkat tema “Organizational Development and Inclusive Governance: Developing a Disability Service Unit Model for Indonesian Higher Education.”

Kegiatan perdana kolaborasi dilaksanakan pada Senin, 11 Mei 2026, di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Tim peneliti dari UIN Sunan Kalijaga yang hadir dalam kegiatan tersebut terdiri atas Ro’fah, Ph.D., Suharto, Ph.D., dan Ferra Puspito Sari, M.Pd. Kegiatan ini masih berada pada tahap awal penelitian, yaitu melakukan need assessment atau analisis kebutuhan kelembagaan terkait layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Tahap analisis kebutuhan dilakukan untuk memetakan kondisi riil perguruan tinggi, mulai dari kebijakan kampus, kesiapan sumber daya manusia, aksesibilitas infrastruktur, hingga budaya organisasi yang mendukung pendidikan tinggi inklusif. Hasil pemetaan ini nantinya menjadi dasar dalam penyusunan model Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang lebih sistematis, adaptif, dan sesuai dengan karakteristik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan penguatan layanan disabilitas di perguruan tinggi seiring hadirnya berbagai regulasi nasional mengenai akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Namun demikian, implementasi layanan di banyak kampus masih berjalan secara parsial dan belum terintegrasi dalam sistem tata kelola universitas secara menyeluruh.

Karena itu, riset ini menawarkan pendekatan baru melalui integrasi konsep Organizational Development (OD) dan Inclusive Governance (IG). Pendekatan tersebut menempatkan layanan disabilitas bukan sekadar layanan tambahan, tetapi bagian dari transformasi kelembagaan menuju kampus yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkeadilan sosial.

Selain agenda penelitian, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Penandatanganan MoU menjadi simbol penguatan kerja sama kedua institusi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan tata kelola perguruan tinggi inklusif.

Ro’fah, Ph.D. selaku ketua peneliti menjelaskan bahwa pengembangan model ULD tidak dapat dilakukan secara top-down, melainkan harus dibangun berdasarkan kebutuhan nyata perguruan tinggi. Oleh karena itu, tahap analisis kebutuhan menjadi fondasi penting sebelum model dikembangkan dan diuji coba di berbagai PTKI mitra.

“Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan model layanan disabilitas yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga implementatif dan dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi ini, kedua perguruan tinggi berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan mendukung pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi.