Scroll untuk baca artikel
Daerah

Sentuhan Teknologi di Tangan Karang Taruna: Tipaso Resmi Diperkenalkan Di Melirang Gresik

×

Sentuhan Teknologi di Tangan Karang Taruna: Tipaso Resmi Diperkenalkan Di Melirang Gresik

Sebarkan artikel ini
Picture4fgjktre
Gambar Mahasiswa Program Pemberdayaan Masyarakat R-15 Desa Melirang Sub Kelompok 7 mendemonstrasikan penggunaan TIPASO (Teknologi Inovatif Pencacah Sampah Organik) kepada Karang Taruna Dusun Galalo di Gowa Lowo, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Rabu (8/7/2026)

Edukasi Update, Gresik – Program Pemberdayaan Masyarakat R-15 Desa Melirang Sub Kelompok 7 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memperkenalkan TIPASO (Teknologi Inovatif Pencacah Sampah Organik) kepada Karang Taruna Dusun Galalo melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026 pukul 09.00 WIB di kawasan Gowa Lowo, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan memperkenalkan teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah organik agar lebih mudah diterapkan oleh masyarakat.

Sampah organik masih menjadi salah satu persoalan yang banyak dijumpai di lingkungan masyarakat Desa Melirang. Sisa sayuran, daun, rumput, dan limbah dapur merupakan jenis sampah yang setiap hari dihasilkan dari aktivitas rumah tangga. Sebagian besar sampah tersebut masih dikumpulkan di tempat penampungan sementara tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Kondisi tersebut menyebabkan volume sampah terus bertambah sehingga pada waktu tertentu menimbulkan bau tidak sedap serta mengurangi kenyamanan lingkungan sekitar.

Berangkat dari hasil pengamatan selama pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat, mahasiswa merancang TIPASO (Teknologi Inovatif Pencacah Sampah Organik) sebagai teknologi tepat guna yang dapat membantu masyarakat memperkecil ukuran sampah organik sebelum diolah menjadi kompos. Melalui proses pencacahan, bahan organik menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah terurai dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos. Selain membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat penampungan, hasil cacahan juga memiliki nilai manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung kegiatan pertanian maupun budidaya tanaman di lingkungan sekitar.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik serta pengenalan terhadap TIPASO (Teknologi Inovatif Pencacah Sampah Organik). Dalam sesi tersebut, tim mahasiswa menjelaskan latar belakang pembuatan alat, fungsi masing-masing komponen, prinsip kerja mesin, hingga manfaat yang dapat diperoleh apabila sampah organik diolah sebelum dibuang. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis sampah yang dapat dicacah menggunakan TIPASO serta tahapan penggunaan alat yang benar agar proses pencacahan berlangsung dengan aman.

Selanjutnya, mahasiswa memperkenalkan bagian-bagian utama mesin yang terdiri atas corong pemasukan, ruang pencacah, mata pisau enam bilah, motor listrik, saluran keluaran hasil cacahan, serta rangka penyangga berbahan baja kanal L. Penjelasan tersebut bertujuan agar peserta memahami fungsi setiap komponen sekaligus mengetahui cara kerja mesin secara menyeluruh. Selain itu, tim juga menyampaikan beberapa langkah keselamatan kerja, seperti memastikan sumber listrik dalam kondisi aman, menggunakan alat pelindung diri ketika mengoperasikan mesin, serta membersihkan ruang pencacah setelah penggunaan.

Setelah sesi pemaparan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan TIPASO secara langsung. Daun, rumput, dan sisa sayuran dimasukkan ke dalam corong pemasukan sebagai bahan uji. Dalam proses tersebut peserta dapat melihat bagaimana sampah organik dicacah hingga menghasilkan potongan yang lebih kecil dan seragam. Hasil cacahan kemudian diperlihatkan kepada peserta sebagai contoh bahan organik yang siap digunakan pada proses pengomposan. Demonstrasi ini memberikan gambaran secara nyata mengenai cara kerja alat sekaligus menunjukkan bahwa proses pencacahan dapat dilakukan dengan mudah menggunakan teknologi yang sederhana.

Suasana kegiatan berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Karang Taruna Dusun Galalo mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan baik, mulai dari sesi penyampaian materi hingga demonstrasi penggunaan alat. Berbagai pertanyaan disampaikan mengenai kapasitas pencacahan, jenis bahan organik yang dapat diproses, cara membersihkan mesin, perawatan komponen, hingga pemanfaatan hasil cacahan sebagai bahan baku kompos. Beberapa peserta juga diberikan kesempatan untuk mencoba mengoperasikan TIPASO secara langsung dengan pendampingan dari mahasiswa sehingga mereka dapat memahami setiap langkah penggunaan secara lebih baik.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan sebuah alat, tetapi juga berbagi pengetahuan mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik sejak dari sumbernya. Sampah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan cara yang tepat. Dengan ukuran bahan yang lebih kecil, proses pengomposan menjadi lebih mudah sehingga limbah organik memiliki nilai guna yang lebih tinggi dibandingkan apabila langsung dibuang ke tempat penampungan.

TIPASO dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat desa. Penggunaan motor listrik berdaya rendah membuat konsumsi energi tetap efisien, sementara rangka berbahan baja kanal L memberikan kekuatan yang cukup untuk penggunaan sehari-hari. Sistem pencacah enam bilah juga dirancang agar mampu menghasilkan ukuran cacahan yang lebih seragam. Selain itu, komponen mesin dipilih dari material yang mudah diperoleh sehingga proses perawatan maupun penggantian suku cadang dapat dilakukan dengan lebih mudah apabila diperlukan.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mengenalkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kehadiran Karang Taruna Dusun Galalo sebagai mitra menunjukkan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam mendukung pengelolaan sampah organik di lingkungan desa. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat memperoleh pengetahuan baru sekaligus memiliki keterampilan dasar dalam mengoperasikan dan merawat alat pencacah sampah organik.

Program Pemberdayaan Masyarakat R-15 Desa Melirang Sub Kelompok 7 berharap TIPASO (Teknologi Inovatif Pencacah Sampah Organik) dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat sebagai salah satu sarana pengelolaan sampah organik. Dengan adanya alat ini, sampah organik yang sebelumnya hanya menumpuk di tempat penampungan diharapkan dapat diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat bagi pertanian, mengurangi volume sampah yang dihasilkan setiap hari, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman bagi masyarakat Desa Melirang.

Penulis

Angga Adi Syaputro
Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin
Program Pemberdayaan Masyarakat R-15 Desa Melirang Sub Kelompok 7
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya