Scroll untuk baca artikel
Daerah

Ketika Kreativitas bertemu kesadaran lingkungan, Pesan Ecoprint dari Universitas Ciputra Surabaya

×

Ketika Kreativitas bertemu kesadaran lingkungan, Pesan Ecoprint dari Universitas Ciputra Surabaya

Sebarkan artikel ini
Picture1wwwwwwww
Dokumentasi pribadi : Dosen School of Creative Industry Universitas Ciputra Surabaya

SURABAYA – Motif dedaunan, bunga, dan jejak alam menghiasi berbagai sudut kampus Universitas Ciputra Surabaya pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni. Dosen dan mahasiswa tampil mengenakan busana ecoprint sebagai bentuk apresiasi terhadap alam sekaligus pengingat bahwa kreativitas dapat lahir dari kedekatan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Busana yang dikenakan bukan sekadar pakaian bermotif alam. Setiap helai kain menyimpan proses panjang yang melibatkan pemanfaatan daun, bunga, dan material alami untuk menghasilkan corak yang unik. Tidak ada motif yang benar-benar sama karena setiap daun meninggalkan jejak warna dan bentuk yang berbeda pada kain.

Di tengah dominasi produksi tekstil massal yang seragam, teknik ecoprint menawarkan pendekatan yang lebih personal dan artistik. Kain tidak lagi diperlakukan hanya sebagai medium fungsional, melainkan sebagai ruang dialog antara kreativitas manusia dan kekayaan alam.

“Ecoprint mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu harus diciptakan melalui proses yang kompleks. Alam sebenarnya sudah menyediakan warna, bentuk, dan tekstur yang luar biasa. Tugas desainer adalah mengolahnya menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus makna,” tutur Fabio Ricardo Toreh, S.Des., M.Des., dosen Program Studi Fashion Design Business Universitas Ciputra.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momen yang tepat untuk memperkenalkan kembali hubungan antara desain, material, dan kesadaran terhadap sumber daya alam. Melalui ecoprint, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap produk tekstil memiliki cerita yang dimulai jauh sebelum menjadi pakaian yang dikenakan.

Selain menampilkan keindahan visual, teknik ecoprint juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional, eksperimen material, dan inovasi desain dapat bertemu dalam satu karya. Tidak mengherankan jika teknik ini semakin banyak mendapat perhatian dalam dunia tekstil dan fesyen kontemporer.

Picture5lkjjj
Dokumentasi pribadi : Mahasiswa/i School of Creative Industry Universitas Ciputra Surabaya

Dosen Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA. menjelaskan bahwa pembelajaran desain saat ini tidak hanya berbicara mengenai bentuk dan tren, tetapi juga pemahaman terhadap asal-usul material yang digunakan.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa desain yang baik lahir dari proses berpikir yang utuh. Mereka tidak hanya belajar menciptakan produk yang menarik secara visual, tetapi juga memahami karakter material, proses produksi, dan nilai yang terkandung di balik sebuah karya,” jelasnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman mengenakan dan mempelajari ecoprint memberikan perspektif baru tentang bagaimana alam dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak terbatas.

“Saya menjadi lebih menghargai hal-hal sederhana yang sering ditemui sehari-hari. Daun yang biasanya terabaikan ternyata dapat menghasilkan motif yang indah dan memiliki karakter yang kuat. Itu membuat saya melihat desain dari sudut pandang yang berbeda,” ungkap Jovita Vimala Hermawan.

Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sivitas akademika Universitas Ciputra Surabaya tidak hanya menampilkan karya tekstil yang menarik secara visual, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat kembali hubungan antara manusia, kreativitas, dan alam. Di balik setiap motif yang tercetak pada kain, tersimpan pesan sederhana bahwa inspirasi terbesar sering kali berasal dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.