Edukasi Update, Opini – Dampak globalisasi sering dianggap sebagai penyebab utama yang membuat masyarakat jauh dari budaya mereka. Perkembangan modern, teknologi digital, dan pariwisata sering datang seperti pedang bermata dua: satu sisi bisa mendatangkan manfaat ekonomi, tetapi di sisi lain bisa mengancam identitas daerah. Di tengah kekhawatiran sosial ini, Kampoeng Heritage Kajoetangan yang terletak di pusat Kota Malang, Jawa Timur, hadir sebagai destinasi yang sarat akan nilai sejarah dan keunikan sosial.
Daerah ini secara resmi ditetapkan oleh Pemerintah Kota Malang sebagai tempat wisata bertema sejak 22 April 2018. Ini bukan hanya sekumpulan rumah tua dari zaman kolonial Belanda (Kajetanganstraat). Lebih dari sekadar deretan bangunan tua, Kajoetangan telah bertransformasi menjadi ruang belajar sosial yang dinamis. Di jalanan sempit yang bersih, sejarah lama berpadu dengan kehidupan modern.
Wisatawan dari dalam maupun luar negeri kini datang dan pergi mengambil gambar bangunan kuno, sementara di tempat lain, warga setempat tetap dengan khusyuk merawat makam “Mbah Honggo” yang berasal dari masa setelah Kerajaan Singhasari runtuh. Bapak Sukanto, warga asli Kajoetangan, menjelaskan bahwa proses terbentuknya kawasan wisata ini tidak terjadi begitu saja.
“Pada awalnya, kawasan Kayutangan dikenal memiliki banyak cagar budaya, seperti rumah-rumah kuno dan makam ‘Mbah Honggo’ yang masih memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Singhasari. Selanjutnya, terdapat kontribusi dari mahasiswa beberapa perguruan tinggi seperti UM, UB, dan ITN yang membantu dalam perancangan dan pengembangan kawasan ini. Bersama Pemerintah Kota Malang, Kayutangan kemudian diresmikan sebagai kawasan wisata,” ujarnya.
Pertemuan antara tradisi lama dan masa kini mengangkat satu pertanyaan penting: bagaimana cara suatu komunitas lokal bisa tetap kuat dan tidak kehilangan identitasnya di tengah banyaknya tren global? Ternyata, jawabannya ada pada bagaimana masyarakat menghayati nilai-nilai Pancasila. Mereka tidak menganggap ideologi ini hanya sebagai teks yang harus dihafal, melainkan sebagai cara untuk memilah budaya yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan sebuah desa padat menjadi tempat wisata umum tentunya berdampak pada privasi. Saat teras rumah warga menjadi tempat untuk foto-foto bagi pengunjung, benturan kepentingan sosial pun sangat mungkin terjadi. Di sini, penerapan Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terjadi secara alami. Komunitas Kajoetangan secara mandiri membuat aturan tentang jam kunjungan ke tempat wisata dan batasan area pribadi untuk memastikan hak istirahat warga setempat. Para wisatawan juga harus menghormati norma-norma kesopanan timur ketika berjalan di gang-gang kampung.
Hal ini dibenarkan oleh Bapak Sukanto. “Untuk menjaga kenyamanan bersama, diberlakukan sistem pembatasan waktu kunjungan, misalnya pada pagi hari hanya sampai pukul tertentu, kemudian dibuka kembali pada waktu berikutnya. Dengan adanya pengaturan tersebut, warga tidak merasa terganggu. Justru, kehadiran wisatawan memberikan dampak positif berupa peningkatan pendapatan masyarakat. Namun, pengunjung tetap diharapkan untuk bersikap sopan dan mematuhi peraturan yang berlaku,” tuturnya. Situasi ini menunjukkan bahwa pembaruan dalam pengelolaan pariwisata tidak harus merusak tradisi lokal.
Tantangan utama dari tempat wisata yang sedang populer adalah sikap individualisme yang muncul karena alasan ekonomi. Namun, dengan memahami Sila Ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, Kajoetangan justru menemukan cara untuk bersatu melalui kolaborasi antar elemen yang berbeda. Pembangunan daerah ini membutuhkan kerja sama yang kuat antara warga lokal, Pemerintah Kota Malang, dan juga melibatkan para akademisi dari berbagai universitas seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan ITN.
Kehadiran para pemikir muda dan pembuat kebijakan ini bukan menimbulkan perpecahan, tetapi justru mengajak orang untuk berbagi pengetahuan. Penduduk setempat yang dulunya hanya menggunakan ruang desa untuk tinggal, sekarang dapat berubah menjadi pengusaha kreatif yang profesional tanpa kehilangan rasa saling membantu. Semangat gotong royong itu pun masih nyata terasa hingga hari ini. “Masyarakat tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan, seperti gotong royong dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Salah satu contohnya adalah kegiatan membersihkan sungai yang dilakukan bersama warga dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup,” kata Bapak Sukanto.
Perubahan ini juga memberikan cara baru dalam melihat globalisasi. Globalisasi tidak selalu berarti harus mengikuti budaya Barat yang merata. Di Kajoetangan, globalisasi dikelola dengan memanfaatkan teknologi, seperti menggunakan kode batang (QR Code) di tiap bangunan bersejarah agar orang lebih mudah mendapatkan informasi tentang sejarah.
Salah satu warga lokal yang berprofesi sebagai penjual cookies dan telah tinggal di kawasan ini sejak lahir menjelaskan bagaimana pelestarian bangunan diatur secara ketat. “Rumah yang sudah ditandai, misalnya dengan barcode, tidak diperbolehkan diubah bentuknya. Perubahan hanya diperbolehkan pada bagian tertentu seperti warna, selama tidak menghilangkan ciri khas bangunan tersebut,” jelasnya. Ini adalah cara pintar menghadapi perubahan: menggunakan alat global untuk menjaga kenangan lokal.
Untuk menghindari agar masyarakat lokal tidak tertinggal secara ekonomi karena pariwisata, prinsip Sila Kelima, yang menekankan keadilan sosial bagi semua orang Indonesia, diimplementasikan dengan cara memperkuat sektor usaha kecil dan menengah atau UMKM. Melalui aturan lokal yang disetujui bersama, jalan-jalan di kampung diutamakan untuk para pelaku usaha lokal mulai dari penjual kue tradisional sampai kedai kopi rumahan yang dikelola oleh keluarga yang telah tinggal di daerah itu selama bertahun-tahun. Penjual cookies tersebut merasakan langsung dampak positif dari kebijakan ini.
“Kampung Heritage ini memang dikembangkan untuk memajukan perekonomian masyarakat, khususnya UMKM warga lokal. Sejak menjadi kawasan wisata, jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan kami juga ikut bertambah,” ungkapnya. Dengan cara ini, perputaran ekonomi pariwisata tidak hanya terpusat pada investor besar, tetapi didistribusikan dengan adil kepada masyarakat yang menjaga warisan sejarah tersebut.
Pada akhirnya, Kampoeng Heritage Kajoetangan memberikan pembelajaran penting tentang strategi budaya di zaman sekarang. Menghadapi globalisasi bukan berarti harus menutup diri dengan ketat, tetapi tentang bagaimana kita memperkuat nilai yang ada di negara kita sendiri. Ketika Pancasila dijadikan landasan dalam bertindak, budaya lokal tidak akan hilang oleh pengaruh modern. Keduanya justru bisa bergabung menjadi satu kesatuan yang harmonis; menjadi modern tanpa kehilangan ingatan sejarah, dan mendunia tanpa mengorbankan tradisi asli Indonesia.
Penulis :
Kania Athira Zachra
Azka Nur Fawaida
Claudia Citra Lestari
Fadiya Noor Amalina
Faradila Aulia
Manajemen, Universitas Brawijaya











