Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Dari Guguran Daun Menjadi Energi Terbarukan, Dr. Sodikin Dosen Universitas Terbuka Raih Paten Inovasi Briket Mangrove

×

Dari Guguran Daun Menjadi Energi Terbarukan, Dr. Sodikin Dosen Universitas Terbuka Raih Paten Inovasi Briket Mangrove

Sebarkan artikel ini
Picture1
Dr. Sodikin Dosen Universitas Terbuka Raih Paten Inovasi Briket Mangrove

EDUKASI UPDATE, JAKARTA – Kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh Dr. Sodikin, dosen Program Studi Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka (UT), yang berhasil mengembangkan inovasi “Proses Pengolahan Serasah Daun Mangrove Menjadi Briket” dan memperoleh paten dengan nomor IDS000015440.

Inovasi ini menjadi salah satu upaya untuk menggali potensi biomassa dari ekosistem pesisir sebagai bahan baku energi alternatif yang memiliki nilai tambah. Gagasan tersebut berawal dari pengamatan terhadap serasah daun mangrove yang berguguran dan tersebar di lantai hutan mangrove. Selama ini, daun-daun tersebut lebih sering dipandang sebagai bagian dari siklus alami ekosistem yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, melalui pengembangan teknologi yang tepat, biomassa tersebut berpotensi diolah menjadi produk yang bermanfaat. Berangkat dari pemikiran inilah Dr. Sodikin mengembangkan proses pengolahan serasah daun mangrove menjadi briket sebagai alternatif pemanfaatan sumber daya organik di kawasan pesisir.

“Serasah daun mangrove yang berguguran di kawasan pesisir menyimpan potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dari situlah muncul pemikiran saya: mengapa daun-daun tersebut tidak kita olah menjadi briket yang berpotensi menghasilkan energi alternatif? Saya berharap inovasi ini dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan serasah daun mangrove secara bijaksana sebagai bahan bakar alami yang mudah diperoleh. Bagi saya, sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat menjadi solusi ketika kita mau berpikir kreatif, melakukan penelitian, dan mengembangkan inovasi,” ungkap Dr. Sodikin.

Perolehan paten dengan nomor IDS000015440 menjadi pencapaian penting dalam perjalanan pengembangan inovasi tersebut. Paten ini memberikan perlindungan terhadap invensi sesuai dengan ruang lingkup yang tercantum dalam dokumen paten sekaligus menjadi landasan untuk mendorong penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Inovasi ini juga memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan di tingkat lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan teknologi yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya secara lebih produktif. Sebagai akademisi di bidang studi lingkungan, Dr. Sodikin memandang bahwa inovasi pemanfaatan biomassa harus tetap berjalan seiring dengan upaya pelestarian ekosistem.

Mangrove memiliki peran penting dalam melindungi kawasan pesisir, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, serta menyerap dan menyimpan karbon. Serasah daun yang gugur secara alami juga berperan dalam siklus unsur hara dan mendukung kehidupan organisme di lantai hutan. Oleh karena itu, pemanfaatannya sebagai bahan baku briket perlu dilakukan secara terkendali, tanpa mendorong penebangan pohon atau pengambilan serasah secara berlebihan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Inovasi ini sekaligus menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui penelitian dan pengembangan teknologi, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam mengidentifikasi potensi sumber daya lokal, menghasilkan inovasi, serta membuka peluang pemanfaatan teknologi tepat guna.

Ke depan, inovasi pengolahan serasah daun mangrove menjadi briket berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat pesisir, terutama untuk menguji kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan sebelum diterapkan secara lebih luas. Pencapaian Dr. Sodikin diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi dosen, peneliti, mahasiswa, dan generasi muda untuk terus mengembangkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat praktis bagi masyarakat.

Inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau sumber daya yang mahal. Terkadang, gagasan besar justru lahir dari keberanian melihat persoalan sehari-hari melalui sudut pandang yang berbeda, kemudian mengembangkannya menjadi solusi melalui proses penelitian yang sistematis.

Dari guguran daun mangrove menjadi gagasan energi alternatif, Dr. Sodikin menghadirkan pesan bahwa potensi yang tersembunyi di sekitar kita dapat menjadi sumber inovasi ketika dikelola dengan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Perolehan paten ini bukan hanya menjadi pencapaian dalam pengembangan kekayaan intelektual, tetapi juga diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa yang lebih luas, bertanggung jawab, dan berkelanjutan demi masa depan masyarakat pesisir dan lingkungan Indonesia.