Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Sebuah Perjalanan dari Ruang Latihan Menuju Panggung Prestasi

×

Sebuah Perjalanan dari Ruang Latihan Menuju Panggung Prestasi

Sebarkan artikel ini
IMG_4958.JPG
M. Nizar Setiawan bersama guru pelatih dan Kepala SD Negeri Gilis, Muhimatul Lailiyah, usai meraih Juara III lomba Ndhagel Ijen pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Rembang 2026.

Oleh: Galih Ardhi Nugroho, M.Pd.

Edukasi Update, Rembang – Setiap prestasi memiliki cerita. Ada proses panjang yang tidak selalu terlihat, ada usaha yang berulang kali dilakukan dan ada keberanian untuk terus mencoba meskipun pada awalnya belum mengetahui harus memulai dari mana. Begitulah perjalanan M. Nizar Setiawan, siswa kelas VI SD Negeri Gilis, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, yang berhasil meraih Juara III Cabang Lomba Ndhagel Ijen dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Rembang Tahun 2026.

Pencapaian tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SD Negeri Gilis. Namun, jika melihat lebih jauh, ada hal yang jauh lebih menarik daripada sekadar sebuah piala, perjalanan seorang anak yang memulai semuanya dari nol. Ketika pertama kali mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba Ndhagel Ijen, Nizar belum memiliki bekal yang cukup. Ia perlu mengenal karakter penampilan, memahami bagaimana membangun kelucuan, mengolah ekspresi, mengatur intonasi, hingga berani tampil di hadapan orang lain. Semuanya merupakan pengalaman baru yang harus dipelajari secara bertahap.

Sebagai guru sekaligus pelatih, saya menyadari bahwa membimbing anak yang belum memiliki dasar bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesabaran, pengulangan dan pendekatan yang sesuai dengan karakter anak. Latihan tidak hanya berisi kegiatan menghafalkan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri, keberanian berekspresi, serta kemampuan menyampaikan humor dengan baik.

Ada kalanya latihan harus diulang karena intonasi belum tepat. Ada pula bagian yang perlu diperbaiki karena ekspresi belum sesuai dengan suasana cerita. Namun, satu hal yang membuat proses ini terasa istimewa adalah semangat Nizar untuk terus belajar. Ia bersedia mencoba kembali, memperbaiki kekurangan dan mengikuti arahan selama latihan.

Dari proses itulah perlahan-lahan terlihat perkembangan. Anak yang semula masih belajar memahami dasar-dasar penampilan mulai menunjukkan keberanian. Ia semakin mengenali karakter yang dibawakan, lebih percaya diri dalam berekspresi dan mampu menyampaikan penampilan dengan lebih baik. Bagi saya, proses tersebut merupakan bagian paling berharga dari sebuah pembinaan. Sebab, tugas seorang guru bukan sekadar mempersiapkan peserta didik untuk memenangkan perlombaan, melainkan membantu mereka menemukan potensi yang mungkin sebelumnya belum mereka sadari.

Hingga akhirnya, kerja keras itu berbuah manis. Dalam ajang FTBI Kabupaten Rembang 2026, Nizar berhasil meraih Juara III cabang Ndhagel Ijen sebagai perwakilan Kecamatan Sarang. Hasil ini menjadi bukti bahwa keterbatasan pengalaman bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Selama ada kemauan untuk belajar, kesempatan untuk berkembang selalu terbuka.

Apresiasi juga datang dari Kepala SD Negeri Gilis, Ibu Muhimatul Lailiyah, S.Pd.SD., M.Pd. Beliau menyambut baik capaian tersebut dan memberikan penghargaan atas usaha serta semangat yang telah ditunjukkan Nizar. Dukungan dan apresiasi dari Kepala Sekolah menjadi penyemangat tersendiri bagi peserta didik sekaligus pengingat bahwa setiap proses pembinaan dan pencapaian anak patut mendapatkan perhatian.

Lebih dari itu, keberhasilan ini bukan hanya milik seorang siswa atau guru pelatih. Ada nama sekolah dan Kecamatan Sarang yang turut dibawa dalam sebuah panggung kompetisi. Ada pula semangat untuk terus menjaga bahasa dan budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Melalui kegiatan FTBI, anak-anak tidak hanya belajar tampil, tetapi juga belajar mencintai bahasa ibu sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.

Saya percaya, setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh. Tidak semua harus langsung mahir, tidak semua harus memulai dengan kemampuan yang sama. Terkadang, yang dibutuhkan seorang anak hanyalah kesempatan, pendampingan dan seseorang yang bersedia percaya bahwa ia mampu berkembang.

Bagi Nizar, Juara III mungkin menjadi catatan prestasi yang akan dikenang. Namun, bagi saya, keberanian yang tumbuh sejak latihan pertama hingga penampilan di tingkat kabupaten adalah kemenangan yang tidak kalah bermakna. Piala boleh menjadi kenangan, tetapi semangat belajar, keberanian mencoba dan pengalaman berproses adalah bekal yang jauh lebih panjang nilainya Sebab, prestasi besar tidak selalu dimulai dari kemampuan yang luar biasa. Terkadang, semuanya berawal dari seorang anak yang mau belajar dari nol dan tidak menyerah untuk mencoba.