Oleh: Jessica Alfa, Mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Padang
EDUKASIUPDATE, OPINI – Di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi dalam pendidikan, sekolah menghadapi pertanyaan penting: apakah tersedianya internet, komputer, dan aplikasi pembelajaran sudah cukup untuk membuat proses belajar lebih efektif?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Teknologi memang membuka peluang bagi guru untuk menghadirkan sumber belajar yang lebih beragam. Namun, keberadaan perangkat digital tidak selalu berarti teknologi tersebut sudah dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran.
Karena itu, digitalisasi sekolah seharusnya tidak berhenti pada penyediaan fasilitas. Sekolah juga perlu memahami kebutuhan guru, kemampuan yang telah dimiliki, kendala yang dihadapi, serta dukungan yang diperlukan agar teknologi benar-benar bermanfaat.
Fasilitas dan Kesiapan Guru Perlu Berjalan Beriringan
Penelitian Hamka dan Sholihat (2021) mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran daring oleh guru SMP di Provinsi Riau memberikan gambaran penting tentang persoalan ini. Dengan melibatkan 96 responden, penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dan pemodelan persamaan struktural berbasis partial least squares untuk menguji faktor-faktor yang berkaitan dengan niat penggunaan teknologi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, dan kondisi fasilitas berhubungan positif dengan niat guru menggunakan teknologi. Temuan ini mengingatkan kita bahwa penggunaan teknologi bukan hanya persoalan ketersediaan perangkat, melainkan juga berkaitan dengan manfaat yang dirasakan dan kondisi yang mendukung penggunaannya.
Pandangan tersebut sejalan dengan penelitian mengenai penerimaan guru IPA terhadap Zoom yang menggunakan kerangka Technology Acceptance Model. Penelitian itu mengkaji persepsi kemanfaatan, persepsi kemudahan, niat menggunakan teknologi, dan penggunaan aktual melalui statistik deskriptif serta analisis jalur (Finsi et al., 2021).
Kedua penelitian tersebut menunjukkan mengapa pemahaman terhadap pengalaman guru penting dalam merencanakan transformasi digital. Akan tetapi, hasil dari satu konteks penelitian tidak dapat langsung dianggap mewakili semua sekolah. Setiap sekolah mempunyai kondisi infrastruktur, karakteristik guru, dan kebutuhan pembelajaran yang berbeda.
Kebutuhan Guru Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Perangkat
Yunus dan Fransisca (2020) membahas analisis kebutuhan media pembelajaran berbasis Android. Penelitian tersebut menggunakan angket untuk memetakan kebutuhan media dan akses terhadap perangkat. Sementara itu, Nenohai dan rekan-rekan (2023) mengkaji kebutuhan guru dalam pembuatan serta penggunaan media pembelajaran dengan melibatkan 51 guru di SMAN 3 Sidoardjo.
Penelitian Nenohai dan rekan-rekan menunjukkan bahwa persoalan penggunaan media dapat mencakup penguasaan teknologi informasi, waktu pengembangan, serta kesesuaian media dengan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, sekolah perlu mencari tahu bukan hanya perangkat apa yang tersedia, tetapi juga apa yang dibutuhkan guru agar mampu menggunakan perangkat tersebut secara bermakna.
Pertanyaan yang perlu diajukan antara lain: aplikasi apa yang paling sering digunakan guru? Keterampilan digital apa yang masih perlu dikembangkan? Apakah jaringan internet dapat diakses dengan baik? Apakah guru membutuhkan pelatihan, pendampingan, atau waktu khusus untuk mengembangkan media pembelajaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat menjadi dasar untuk menyusun program pengembangan kompetensi yang lebih tepat sasaran.
Dari Asumsi Menuju Data
Salah satu langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah melaksanakan survei kebutuhan teknologi pembelajaran secara sistematis. Survei tersebut dapat mengumpulkan informasi mengenai infrastruktur, kompetensi digital, intensitas penggunaan teknologi, hambatan, dan prioritas pelatihan.
Data kemudian dianalisis melalui dua pendekatan.
Pertama, statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi yang ada, misalnya persentase guru yang memiliki akses perangkat, jenis aplikasi yang digunakan, atau keterampilan yang paling dibutuhkan.
Kedua, analisis korelasi dapat digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kesiapan digital guru, ketersediaan fasilitas, dan intensitas pemanfaatan teknologi. Apabila data dan ukuran sampel memenuhi persyaratan, analisis regresi juga dapat dipertimbangkan untuk menguji hubungan prediktif antarvariabel.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan pentingnya membedakan ketersediaan infrastruktur dari pemanfaatan teknologi dalam praktik pembelajaran. Hutabarat dan Hamise (2026), melalui analisis data administratif pada tingkat provinsi, menemukan hubungan positif antara infrastruktur digital dan intensitas pemanfaatan pembelajaran digital.
Namun, temuan tingkat provinsi tersebut tidak boleh langsung diterapkan sebagai kesimpulan tentang guru individual di suatu sekolah.
Mengapa Penelitian di Satu SMP Tetap Penting?
Penelitian pada satu sekolah dapat menjadi langkah awal untuk memahami kondisi secara lebih dekat. Melalui survei kepada guru, sekolah dapat mengetahui kesenjangan antara fasilitas yang tersedia dan kebutuhan yang dirasakan oleh penggunanya.
Rencana penelitian mengenai kebutuhan teknologi pembelajaran di salah satu SMP ini diarahkan untuk memetakan kebutuhan tersebut sekaligus menguji hubungan antarvariabel. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan prioritas pengadaan fasilitas, pelatihan kompetensi digital, dan pendampingan penggunaan media pembelajaran.
Tentu saja, rekomendasi tersebut harus ditentukan setelah data benar-benar dikumpulkan dan dianalisis. Penelitian tidak boleh menganggap sejak awal bahwa semua guru mengalami kendala yang sama atau bahwa teknologi tertentu pasti menjadi kebutuhan utama.
Pada akhirnya, transformasi digital pendidikan tidak seharusnya diukur hanya dari banyaknya perangkat atau aplikasi yang tersedia. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana teknologi membantu guru merencanakan pembelajaran, menyampaikan materi, melakukan evaluasi, dan merespons kebutuhan peserta didik.
Sekolah digital yang baik bukan sekadar sekolah yang terkoneksi dengan internet. Sekolah digital yang baik adalah sekolah yang memahami kebutuhan penggunanya dan menggunakan bukti untuk menentukan langkah perbaikan.
Daftar Pustaka
Finsi, C. Y., Anaperta, M., & Helendra. (2021). [Penelitian penerimaan guru IPA terhadap penggunaan Zoom dalam pembelajaran berdasarkan Technology Acceptance Model]. Natural Science: Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA, 7(2), 89–95. Rekaman artikel dapat ditelusuri melalui GARUDA.
Hamka, D., & Sholihat, N. (2021). Faktor-faktor penentu perilaku guru SMP menggunakan teknologi dalam pembelajaran online: Studi kasus di Provinsi Riau. Jurnal Pendidikan, 22(2), 123–133. https://doi.org/10.33830/jp.v22i2.1934.2021
Hutabarat, J. S., & Hamise, V. T. (2026). Infrastruktur digital dan kesiapan guru terhadap intensitas pemanfaatan pembelajaran digital. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11(1), 136–163. https://doi.org/10.24832/jpnk.v11i1.7107
Nenohai, J. A., et al. (2023). Analysis of the needs of teachers of SMAN 3 Sidoardjo in the creation and use of learning media. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 10(3). https://doi.org/10.21831/jitp.v10i3.54691
Yunus, Y., & Fransisca, M. (2020). Analisis kebutuhan media pembelajaran berbasis Android pada mata pelajaran kewirausahaan. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 7(2). https://doi.org/10.21831/jitp.v7i1.32424











